URBANKALTIM.COM, BALIKPAPAN – Hujan deras mengguyur atap rumah, angin kencang berisik, udara terasa dingin dan basah, suara hujan bergemuruh.
Inilah kondisi saat rumah kayu di Jalan 21 Januari, RT 9, No. 57, Kelurahan Baru Ulu, Balikpapan Barat, roboh pada Minggu (8/2/2026) sore sekitar pukul 17.40 Wita.
Saksi mata, Aco, mengatakan peristiwa itu berlangsung kurang dari lima menit saat cuaca ekstrem melanda.
Bangunan rumah yang terbuat dari kayu ulin itu ambruk seketika diterjang angin kencang.
“Memang hujan, angin kencang. Waktu itu, saya turun ke kapal mau buang air kecil, begitu sampai di kapal, rumahnya tiba-tiba runtuh. Kejadiannya tiba-tiba aja, nda smapai lima menit hujan, runtuh sudah,” ujar Aco.
Rumah tersebut diketahui lama tak berpenghuni.
Selama ini, Aco dan teman-temannya sering menggunakan rumah itu sebagai tempat singgah setelah melaut.
Selain itu, warga sekitar kerap menitipkan kendaraan di sana, menjadikannya parkiran darurat.
Saat rumah roboh, puing-puing beterbangan dengan keras, menciptakan suara dentuman yang menakutkan.
Seorang teman Aco sempat melompat untuk menghindar.
Namun, seorang pedagang gulali yang berteduh di dekat rumah naasnya tidak sempat menyelamatkan diri dan meninggal di lokasi akibat tertimpa reruntuhan.
“Teman saya sempat loncat. Hampir kena, tapi untung selamat. Tapi yang penjual gulali itu, nda sempat. Meninggal di tempat. Kita buka puing-puing itu. Saya yang buka sendiri. Tapi dia sudah meninggal,” ungkapnya dengan wajah lesu.
Selain menelan korban jiwa, peristiwa ini juga merusak empat unit sepeda motor milik warga yang sebelumnya terparkir di rumah tersebut.
Bau kayu hangus bercampur debu masih menyengat hidung warga saat proses evakuasi berlangsung.
Hingga malam hari, listrik di beberapa rumah sekitar padam, sementara hujan terus mengguyur kota Balikpapan.
Petugas BPBD dibantu aparat TNI dan Polri terus bekerja menyingkirkan reruntuhan kayu menggunakan lampu penerangan portabel.
Warga sekitar berkumpul di jalan sempit dekat lokasi, menatap proses evakuasi dengan rasa was-was sekaligus penasaran.
Sejumlah warga menuturkan bahwa cuaca sore itu terasa tidak biasa.
Angin bertiup begitu kencang hingga mengayunkan pepohonan dan membuat gelombang kecil di belakang rumah yang roboh.
“Tadi anginnya memang kencang, tidak biasanya begitu. Untungnya juga tidak ada anak-anak yang mancing di belakang rumah itu, karena biasanya ada,” kata Harianti, warga sekitar.
Hingga berita ini diturunkan, aparat kepolisian dan BPBD masih melakukan investigasi lanjutan terkait penyebab pasti ambruknya bangunan serta mendata kerusakan dan korban. (UK)





