URBANKALTIM.COM, TENGGARONG – Di saat perbincangan publik diramaikan isu pengadaan mobil dinas Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) senilai miliaran rupiah, kontras lain terlihat dari daerah terpencil di pesisir Kutai Kartanegara (Kukar).
Jika kendaraan dinas identik dengan mesin bertenaga besar, fitur keselamatan lengkap, kabin senyap dan suspensi empuk untuk menjamin kenyamanan pejabat, maka di Dusun Damai, Desa Santan Ulu, anak-anak justru menggantungkan perjalanan sekolahnya pada kabel baja dan papan kayu.
Mobil dinas yang ramai dibicarakan disebut-sebut sebagai SUV premium berkelas eksekutif dengan mesin V6 twin-turbo, sistem penggerak empat roda, air suspension adaptif, serta paket keselamatan aktif canggih seperti lane assist dan adaptive cruise control.
Nilainya ditaksir mencapai Rp8,5 miliar.
Namun di Marangkayu, “suspensi” anak-anak itu hanyalah ayunan kecil di atas arus sungai.
Setiap pagi, sebelum lonceng sekolah berbunyi di SD 021 dan SD 024, belasan siswa Dusun Damai lebih dulu berhadapan dengan sungai yang membelah kampung mereka.
Tidak ada jembatan permanen, tidak pula perahu mesin, yang tersedia hanya kereta gantung sederhana, rangka besi kecil beralas papan, disambungkan ke kabel baja yang membentang dari satu tepi ke tepi lain.
Anak-anak berdiri bergantian di atasnya, tangan mungil mereka menarik katrol secara manual dengan pelan, berderit dan kadang tersendat.
Sungai di bawah tampak tenang, tetapi bisa berubah deras ketika hujan turun di hulu.
Kereta itu bukan proyek pemerintah, ia lahir dari gotong royong warga sekitar dua hingga tiga tahun lalu.
Hingga kini, fasilitas sederhana itu menjadi satu-satunya akses tercepat menuju sekolah.
Bagi mereka, pendidikan bukan sekadar slogan tentang masa depan gemilang, tapi perjalanan fisik yang benar-benar harus ditempuh dengan risiko nyata.
Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, mengakui kebutuhan jembatan permanen sudah lama diajukan. Namun hingga kini belum terealisasi.
“Sudah kami usulkan. Harapannya bisa segera diperhatikan, terutama untuk keselamatan anak-anak,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).
Ia menyebut sedikitnya ada dua titik infrastruktur mendesak, jembatan rusak di RT 16 dan jembatan katrol di RT 009 Dusun Damai.
Secara keseluruhan terdapat lima unit kereta gantung katrol di beberapa titik desa, digunakan tak hanya pelajar tetapi juga warga menuju kebun dan mengangkut hasil panen.
Perawatan selama ini bersumber dari Alokasi Dana Desa.
“Yang paling diprioritaskan memang akses anak sekolah,” tegasnya.
Kondisi tersebut sebelumnya pernah ditinjau langsung oleh mantan Bupati Kukar Edi Damansyah.
Dinas terkait juga sempat melakukan pendataan kebutuhan pembangunan.
Bahkan program pembangunan jembatan untuk akses pelajar di wilayah terpencil pernah digaungkan pemerintah pusat.
Namun bagi anak-anak Dusun Damai, waktu berjalan lebih cepat daripada realisasi anggaran.
Di atas kertas, visi pembangunan daerah berbicara tentang transformasi, efisiensi, dan lompatan menuju masa depan.
Di lapangan, anak-anak masih menarik katrol dengan tangan sendiri agar bisa duduk di bangku kelas.
Kontras itu terasa nyata.
Di satu sisi, kendaraan dinas dengan teknologi tinggi dirancang untuk menjamin keamanan dan kenyamanan maksimal di jalan beraspal mulus.
Di sisi lain, pelajar di pedalaman Kutai Kartanegara setiap hari mempertaruhkan keseimbangan tubuhnya di atas kereta gantung kayu.
Pemerintah desa berharap perhatian terhadap sektor pendidikan tidak berhenti pada program dan wacana, tetapi benar-benar menyentuh akses paling dasar, jembatan aman menuju sekolah.
Sebab bagi anak-anak Dusun Damai, yang mereka butuhkan bukan kendaraan mewah.
Mereka hanya ingin menyeberang dengan selamat. (UK)





