URBANKALTIM.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin memicu krisis global. Blokade Selat Hormuz oleh Iran mengancam pasokan minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran ekonomi internasional, Jumat (3/4/26).
Garda Revolusi Iran menegaskan akan menutup jalur strategis tersebut bagi musuh negara itu. Langkah ini menjadi respons atas ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam menyerang Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur utama bagi satu per lima minyak dunia. Penutupan atau gangguan di wilayah ini berisiko memicu lonjakan harga minyak dan ketidakstabilan pasar global.
Pemerintah Prancis menilai operasi militer untuk membuka kembali selat sangat tidak realistis. Sementara itu, China menyalahkan AS dan Israel sebagai penyebab utama gangguan di jalur ini.
Pidato Trump justru memicu ketidakpastian pasar. Harga minyak melonjak, saham anjlok, dan lembaga internasional memperingatkan dampak ekonomi lebih luas.
“Institusi kami sangat khawatir terhadap dampak perang ini pada inflasi, pekerjaan, dan keamanan pangan,” kata Paschal Donohoe.
Maskapai di China menaikkan biaya bahan bakar, sementara pegawai negeri di Malaysia diminta bekerja dari rumah. Bahkan Bhutan melaporkan kenaikan harga bahan bakar akibat kondisi eksternal yang berada di luar kendali negara mereka.
“Kami akan menutup jalur ini bagi musuh negara kami,” tegas Zolfaqari. (UK)





