Tak Sekadar Tempat Ibadah, Masjid Jami’ KH Muhammad Sadjid Jadi Rumah Lelah Musafir

Oleh redaksi

pada Sabtu, 28 Februari 2026

Masjid Jami’ KH Muhammad Sadjid (Urbankaltim)

URBANKALTIM.COM, TENGGARONG – Bulan Ramadan selalu menghadirkan warna tersendiri.

Denyut kehidupan terasa lebih semarak, termasuk aktivitas warga di tepian Sungai Mahakam.

Di tengah arus itu, Masjid Jami’ KH Muhammad Sadjid tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang bernaung bagi mereka yang membutuhkan tempat untuk menyandarkan lelah.

Berlokasi di Jalan AM Sangaji, Kelurahan Baru, pintu masjid ini nyaris tak pernah benar-benar tertutup.

Ia terbuka bagi siapa saja yang kelelahan dan belum menemukan tempat singgah untuk berlindung dari gelap dan dinginnya malam.

Sejak 2023, pengelola masjid mulai menyediakan layanan kamar musafir.

Layanan ini secara perlahan ditata agar lebih terstruktur dari waktu ke waktu.

Ruang di lantai atas yang sebelumnya digunakan sebagai Sekretariat Yayasan dan Ikatan Remaja Masjid dialihkan fungsinya menjadi kamar singgah.

“Awalnya di atas itu Sekretariat IRMA yang kami fungsikan jadi kamar musafir dan sekarang Sekretariat IRMA bergabung dengan Yayasan,” ujar Rudy Indra Winarto, pengurus Yayasan Masjid Jami KH Muhammad Sadjid.

Baca juga  Hadapi Air Bangar, Perumda Tirta Mahakam Upgrade Pengolahan Air ke Sistem Membran

Tiga kamar disiapkan untuk para musafir. Satu kamar berpendingin udara diperuntukkan bagi penceramah atau ustaz yang mengisi kajian.

Dua kamar lainnya tanpa AC, namun tetap bersih dan nyaman. Tempat tidur, air minum, kopi, serta teh tersedia bagi tamu. Toilet berada di lantai yang sama sehingga tidak perlu turun tangga pada malam hari.

Ruang utama masjid pun terbuka setiap waktu untuk wudu dan salat.

Dalam sebulan, rata-rata 10 hingga 15 orang memanfaatkan fasilitas tersebut.

Setiap tamu tercatat melalui buku tamu berbasis barcode yang tersimpan di laptop pengurus, sehingga administrasi lebih tertib dan terdokumentasi dengan baik.

“Fasilitasnya tidak selengkap hotel, namun cukup untuk memulihkan lelah perjalanan,” kata Rudy.

Baca juga  Polres Kukar Musnahkan Ribuan Botol Miras dan Narkotika

Pengelolaan kamar musafir juga dilengkapi aturan yang jelas.

Masa tinggal dibatasi maksimal tiga hari. Setiap tamu wajib menunjukkan identitas sebelum menginap.

Proses verifikasi dilakukan demi menjaga keamanan dan kenyamanan bersama.

“Soalnya kami juga tidak berani kan terima asal terima, takutnya itu buronan kah atau apa. Nah itu yang kami hindari,” jelasnya.

Pendanaan operasional kamar bersumber dari partisipasi jamaah dan dukungan yang dihimpun melalui media sosial.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara pada masa Bupati Edi Damansyah turut memberikan hibah berupa kursi, televisi, serta fasilitas pendukung lainnya.

Kolaborasi tersebut memperkuat keberlanjutan program.

Pada 2024, masjid ini meraih penghargaan tingkat nasional sebagai masjid ramah duafa dan musafir terbaik dalam ajang Anugerah Masjid Percontohan dan Ramah.

Penghargaan itu mengungguli nominasi dari berbagai provinsi, termasuk Yogyakarta dan Aceh.

Baca juga  Desa Keluhkan Tagihan Bulanan Program Internet Gratis, Diskominfo Kaltim Pastikan Hanya Miskomunikasi

Sejak pengakuan tersebut, jumlah tamu yang datang meningkat.

Hampir setiap pekan ada musafir baru yang mengetuk pintu.

Tidak hanya umat Islam, tetapi juga nonmuslim yang membutuhkan tempat beristirahat sementara.

Selama memenuhi ketentuan administrasi, mereka dipersilakan bermalam.

Di bulan Ramadan, pelayanan terasa semakin hidup.

Selain saf salat yang kian padat, lantai atas masjid menjadi ruang singgah bagi beragam kisah perjalanan.

Masjid ini tak hanya menghadirkan ibadah ritual, tetapi juga wujud nyata solidaritas sosial.

Di tengah hiruk pikuk kota, Masjid Jami’ KH Muhammad Sadjid menegaskan bahwa fungsi rumah ibadah tidak berhenti pada bangunan fisik.

Ia menjadi ruang aman bagi para pejalan, membuka pintu dengan aturan yang tertata, serta memaknai keramahan sebagai bagian dari pengabdian. (UK)

Bagikan: