Rekor MURI Anti Narkoba di Kutim, Jimmi Dorong Edukasi hingga Pelosok Desa

Oleh redaksi

pada Senin, 12 Oktober 2026

URBAN, SANGATTA – Gerakan bersama melawan narkotika yang melibatkan 61 ribu pelajar dan masyarakat di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menorehkan prestasi dengan meraih rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Pencapaian tersebut menjadi momentum untuk memperkuat gerakan pencegahan narkoba yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Dukungan terhadap gerakan tersebut turut disuarakan DPRD Kutim sebagai bagian dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Lembaga legislatif itu memandang upaya pemberantasan narkoba perlu dibarengi edukasi berkelanjutan agar kesadaran masyarakat tidak berhenti pada kegiatan deklarasi.

Ketua DPRD Kutim, Jimmi, menekankan pentingnya keterlibatan seluruh unsur pemerintahan dalam membangun pemahaman mengenai bahaya narkotika sejak usia dini. “Peran serta kita bersama Forkopimda itu bagaimana membimbing dan mengajarkan kepada masyarakat sejak dini untuk semangat dalam kegiatan anti narkoba,” ujar Jimmi, Senin (12/10/2026).

Baca juga  Ledakan di Fasilitas PBB Lebanon Lukai 3 Pasukan RI, UNIFIL Ingatkan Eskalasi Konflik

Menurutnya, pelajar merupakan kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Pembentukan pola pikir dan karakter sejak bangku sekolah diharapkan dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk menjauhi lingkungan yang berisiko.

Partisipasi siswa dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dalam deklarasi tersebut memperlihatkan bahwa gerakan antinarkoba perlu dibangun melalui pendidikan dan pembiasaan. Sekolah, keluarga, serta lingkungan pergaulan memiliki peran yang saling melengkapi dalam menanamkan perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab.

Jimmi juga menilai keberhasilan gerakan antinarkoba tidak cukup diukur dari besarnya jumlah peserta maupun pencapaian rekor. Hal yang lebih penting ialah bagaimana semangat tersebut diteruskan menjadi tindakan nyata melalui sosialisasi, pendampingan, dan pengawasan di tengah kehidupan masyarakat.

Salah satu pendekatan yang dinilai penting adalah menyesuaikan cara penyampaian informasi dengan karakteristik warga di setiap wilayah. Kutim memiliki masyarakat dengan latar belakang suku dan budaya yang beragam, termasuk komunitas yang tinggal di kawasan pedalaman dan desa-desa yang jauh dari pusat perkotaan.

Baca juga  Tiga Prajurit TNI Gugur, UNIFIL Beri Penghormatan Terakhir di Beirut

“Hubungannya dengan bahasa daerah, tentu ini menjadi satu komitmen di seluruh lini sendi-sendi kehidupan masyarakat termasuk masyarakat daerah dan masyarakat pedalaman yang memang harus memiliki pemahaman terkait dengan anti narkoba,” katanya.

Penggunaan bahasa yang akrab dengan keseharian warga dinilai dapat membantu masyarakat memahami pesan pencegahan secara lebih jelas. Melalui komunikasi yang sesuai dengan latar belakang budaya, informasi mengenai dampak narkotika diharapkan dapat menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini belum tersentuh sosialisasi secara optimal.

Pendekatan berbasis kearifan lokal juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat keterlibatan tokoh adat, tokoh masyarakat, tenaga pendidik, serta keluarga. Dengan dukungan berbagai pihak tersebut, kampanye antinarkoba diharapkan tidak hanya berlangsung dalam agenda resmi, tetapi turut menjadi bagian dari aktivitas sosial masyarakat.

Baca juga  Kutim Perkuat Pemanfaatan Benih Unggul, Produktivitas Padi Ditargetkan Naik 15 Persen pada 2026

Jimmi menegaskan bahwa bahasa daerah memiliki kedekatan tersendiri dengan kehidupan warga sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan kampanye. “Nah, itu bisa dikampanyekan melalui bahasa daerah. Karena bahasa daerah ini kan menyangkut dengan semua sendi yang terdalam dari sisi kehidupan masyarakat lingkungannya,” jelasnya.

DPRD Kutim berharap capaian rekor MURI tersebut menjadi pemicu bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam melindungi masyarakat dari ancaman narkotika. Konsistensi edukasi, pendekatan yang sesuai dengan budaya setempat, serta keterlibatan aktif warga diharapkan mampu membangun lingkungan yang lebih aman bagi generasi penerus di Kutai Timur.

Bagikan: