URBANKALTIM.COM, TENGGARONG – Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong komunitas Stand Up Comedy Tenggarong meningkatkan kualitas penampilan agar mampu menjangkau panggung publik dengan karakter penonton yang lebih beragam.
Simpang Odah Etam menjadi salah satu lokasi yang dipertimbangkan untuk memperluas ruang tampil komika lokal.
Upaya ini dilakukan seiring perkembangan komunitas yang tumbuh secara mandiri tanpa dukungan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Dispar Kukar menilai kemandirian tersebut menjadi modal penting untuk membangun subsektor ekonomi kreatif di daerah.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan pihaknya mengapresiasi komunitas yang tetap aktif mengembangkan kegiatan meski anggotanya harus membagi waktu dengan pekerjaan dan aktivitas lain.
“Memang komunitas ini non-APBD, tidak ada pembiayaan. Mereka mau tumbuh dan berkembang secara mandiri, dan itu memang mendapat atensi kami. Kami, secara komunitas, apalagi dinas, sangat mengapresiasi sekali,” kata Zikri, Jumat (9/10/2026).
Menurut Zikri, membawa komika ke panggung publik tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat tampil.
Kualitas materi dan kemampuan menyampaikan lelucon perlu diperkuat agar penampilan dapat diterima oleh penonton dengan latar belakang berbeda.
Simpang Odah Etam menjadi salah satu ruang yang dipertimbangkan karena memiliki karakter audiens yang lebih beragam dibandingkan penonton open mic komunitas.
“Materi stand up comedy kan intinya ada di materi, bagaimana penyampaiannya. Jadi, memang kami juga minta bantuan dari teman-teman stand up dari Samarinda untuk datang ke sini,” ujarnya.
Kolaborasi dengan komunitas Stand Up Comedy Samarinda diharapkan membuka ruang pertukaran pengalaman bagi komika Tenggarong.
Dalam salah satu kegiatan, lebih dari delapan anggota komunitas dari Samarinda hadir untuk memberikan dukungan sekaligus berbagi pengalaman.
Zikri menjelaskan, komika yang tampil di ruang publik harus mampu membaca situasi dan menyesuaikan materi dengan penonton. Tantangannya berbeda ketika audiens tidak hanya berasal dari kalangan muda, tetapi juga anak-anak hingga orang tua.
“Di sana penontonnya audiensnya berbeda-beda. Ada anak-anak, ada orang tua, jadi sense of humor-nya berbeda-beda. Karena mereka juga pasti melihat audiens,” jelasnya.
Di sisi komunitas, Ketua Stand Up Comedy Tenggarong, Muhammad Zakaria Alfarizi, menyebut perkembangan kegiatan open mic dalam beberapa bulan terakhir mulai menunjukkan tren positif.
Jumlah penonton bertambah, termasuk kehadiran sejumlah pengunjung dari Samarinda.
“Alhamdulillah, saya senang dengan banyaknya penonton yang hadir. Ada juga beberapa orang dari Samarinda. Harapannya ke depan bukan hanya dari Samarinda, tetapi masyarakat Tenggarong sendiri semakin banyak yang ikut menonton,” ujarnya.
Saat ini, komunitas tersebut mencatat sekitar 14 anggota yang telah terdaftar.
Regenerasi juga mulai terlihat, dengan sejumlah anggota baru yang bergabung sekitar tiga bulan terakhir sudah mampu menyiapkan materi komedi berdurasi sekitar lima menit.
Meski demikian, tantangan masih ada. Jumlah komika yang tampil dalam satu pertunjukan bisa mencapai lima hingga enam orang, tetapi jumlah penonton belum selalu ramai.
Karena itu, konsistensi kegiatan menjadi penting untuk menjaga keberlangsungan panggung sekaligus membangun kebiasaan menonton stand up comedy di Tenggarong.
Open mic dijadwalkan berlangsung rutin setiap Rabu malam mulai pukul 20.00 Wita.
Kegiatan ini terbuka bagi masyarakat umum, termasuk mereka yang ingin melatih keberanian berbicara di depan orang banyak tanpa harus bercita-cita menjadi komika profesional.
“Kami terbuka untuk umum. Misalnya ada yang ingin belajar public speaking atau hanya ingin menyampaikan keluh kesah, bisa disampaikan melalui open mic. Untuk usia juga terbuka, mulai SMP, SMA hingga mahasiswa,” katanya.
Selain memperkuat komunitas yang sudah terbentuk, Dispar Kukar juga menyiapkan strategi untuk menjaring talenta baru.
Mulai 2027, program Ekraf Goes to School direncanakan menyasar pelajar melalui sejumlah subsektor ekonomi kreatif, termasuk film, fotografi, tari, musik, dan stand up comedy.
Program tersebut diharapkan memperluas kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal dan mengembangkan potensi kreatif sejak sekolah.
Dengan begitu, pengembangan stand up comedy di Tenggarong tidak hanya bergantung pada anggota komunitas yang ada saat ini.
“Jadi, kombinasinya memang dari sektor film, fotografi, tari, musik, nanti akan turun bersama-sama ke sekolah untuk kita mencari bibit-bibit. Karena kalau yang lama-lama ini kan memang ya sampai di situ saja, jadi kita harus mencari bibit-bibit baru,” kata Zikri. (Adv)





