Hadir di Diskusi Publik Bersama BEM Unikarta, Natsir Dorong Pemuda Produktif: Waktu Adalah Nyawa

Oleh redaksi

pada Selasa, 29 September 2026

Muhammad Natsir Hidayat saat menerima cindramata dari panitia pelaksana diskusi (Urbankaltim)
Muhammad Natsir Hidayat saat menerima cindramata dari panitia pelaksana diskusi (Urbankaltim)

URBANKALTIM.COM, TENGGARONG – Perubahan zaman menuntut generasi muda tidak sekadar menjadi penonton.

Mahasiswa dan pemuda didorong untuk lebih produktif, berani membaca peluang, serta memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum kesempatan berlalu.

Pesan itu disampaikan Muhammad Natsir Hidayat, figur pengusaha muda yang menjadi narasumber dalam diskusi publik bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Senin (28/9/2026) malam.

Diskusi yang berlangsung di kantin Unikarta tersebut mengangkat tema “Saat Zaman Berubah, Pemuda Harus Apa?”.

Kegiatan digagas BEM Unikarta bersama BEM se-Kalimantan dan Forum Mahasiswa Hulu.

Selain Natsir, diskusi tersebut menghadirkan Anggota DPRD Kukar, Akbar Haka sebagai narasumber.

Forum itu menjadi ruang dialog untuk membahas posisi generasi muda di tengah perubahan teknologi, perkembangan dunia kerja, hingga tantangan ekonomi yang semakin dinamis.

Natsir yang juga merupakan Ketua Satuan Relawan Indonesia Raya (SATRIA) Kukar menekankan, mahasiswa tidak boleh hanya menunggu datangnya peluang.

Baca juga  Dalami Motif Penikaman di Balikpapan Utara, Polisi Amankan Satu Orang Terduga Pelaku

Menurut dia, perubahan zaman justru harus dibaca sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan dan menciptakan peluang baru.

Salah satu pesan yang ditekankan Natsir adalah pentingnya menghargai waktu. Karena menurutnya, waktu memiliki batas dan tidak pernah bisa dinegosiasikan.

Karena itu, setiap kesempatan yang dimiliki anak muda harus dimanfaatkan untuk belajar, bekerja, membangun pengalaman maupun memulai sesuatu yang produktif.

“Waktu adalah nyawa,” tegasnya saat menyampaikan materi di hadapan para mahasiswa.

Ia mengingatkan, kebiasaan menunda pekerjaan atau rencana justru dapat menjadi investasi terbesar menuju kegagalan di masa mendatang.

“Pesan buat teman-teman mahasiswa, jangan bosan-bosan untuk melakukan perubahan, memiliki dobrakan-dobrakan atau sesuatu yang baru, yang sifatnya positif,” kata Natsir.

Ia juga meminta mahasiswa tidak bersikap anti terhadap perkembangan teknologi. Kemajuan teknologi, menurutnya, harus dimanfaatkan secara positif dan disesuaikan dengan kebutuhan.

“Jangan anti terhadap perubahan khususnya di teknologi, jadi gunakanlah perubahan-perubahan di teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan secara positif,” ujarnya.

Baca juga  Dari Rumah Sederhana ke Harapan Baru, Ahmad Ali Terharu Dapat Bantuan Bedah Rumah Polres Kutim

Dorongan tersebut menjadi relevan karena perubahan teknologi saat ini berlangsung sangat cepat.

Perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi dan robotika berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja di masa depan.

Karena itu, Natsir mendorong mahasiswa mulai mempersiapkan diri dengan meningkatkan kapasitas, keterampilan dan keberanian mencoba hal baru.

Ia juga mengajak generasi muda lebih cerdik membaca peluang usaha.

Status sebagai mahasiswa, menurutnya, bukan alasan untuk hanya menunggu setelah menyelesaikan pendidikan.

Kehidupan yang terus bergerak membuat anak muda harus memiliki inisiatif dan terus menghadirkan inovasi.

“Harapan saya mudah-mudahan setelah pasca kegiatan ini, teman-teman mau keluar dari zona-zona yang mungkin masih zona nyaman, kemudian melakukan suatu gerakan yang sebelumnya, ditunda-tunda,” kata Natsir.

Ia berharap mahasiswa tidak berhenti pada diskusi, tetapi membawa hasil pembicaraan tersebut menjadi tindakan nyata, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Baca juga  DPR RI Siap Fasilitasi Penyelesaian Konflik Lahan Tahura Bukit Soeharto

“Jadi ada satu tools atau goals yang ingin dicapai oleh teman-teman mahasiswa setelah dalam hal ini jangka pendek maupun jangka panjang,” lanjutnya.

Bagi Natsir, produktivitas pemuda tidak hanya berdampak pada kehidupan individu.

Generasi muda merupakan bagian penting dari masa depan daerah.

Ketika anak muda memiliki kapasitas, kemandirian dan produktivitas, dampaknya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Pandangan serupa menjadi bagian dari diskusi yang berlangsung dinamis malam itu.

Forum tidak hanya membahas tantangan yang dihadapi pemuda, tetapi juga pentingnya pendidikan dan wadah pengembangan kapasitas sebagai fondasi menghadapi perubahan.

Melalui pendidikan, kapasitas manusia dapat terus dikembangkan sehingga melahirkan generasi yang lebih produktif dan mampu menciptakan nilai bagi lingkungannya.

Diskusi tersebut pun ditutup dengan satu pesan besar, perubahan zaman tidak seharusnya membuat pemuda terlena, tetapi menjadi momentum untuk bergerak, belajar, berinovasi dan mengambil peluang sebelum waktu benar-benar berlalu. (UK)

Bagikan: