TENGGARONG – Kue tradisional khas Kutai semakin mendapat tempat di hati pecinta kuliner Nusantara. Salah satunya adalah Kue Elat Sapi buatan Ibu Herlinda (46), produk rumahan asal Tenggarong yang tidak hanya mempertahankan cita rasa autentik, tetapi juga sudah mengantongi sertifikat halal dan izin BPOM.
Kue Elat Sapi merupakan makanan khas Kutai yang dibuat dari bahan sederhana berupa tepung terigu, gula merah, minyak, dan soda kue. Namun, di balik kesederhanaan bahan, kue ini memiliki cita rasa manis legit dengan tekstur yang khas.
Herlinda menjelaskan, proses pembuatan kue ini cukup unik karena adonan harus didiamkan semalaman sebelum dicetak. Hal ini menjadi kunci tekstur lembut sekaligus kenyal yang menjadi ciri khas Elat Sapi.
“Tahap paling penting adalah memilih kualitas gula merah. Kalau bahannya bagus, hasil kuenya pasti maksimal,” ungkapnya.
Meski bahan bakunya mudah ditemukan, Herlinda tidak asal memilih. Ia kerap membeli gula merah di Pasar Kedondong Samarinda, sementara bahan lain seperti tepung terigu diperolehnya dari pasar di Tenggarong.
“Kalau stok gula merah memang selalu ada, tapi kadang kualitasnya jelek. Jadi enggak saya ambil,” ujarnya.
Selain soal bahan baku, kendala lain yang dihadapinya adalah ketersediaan gas elpiji di pasar. Sebab, proses pemanggangan masih menggunakan oven tangkring berbahan gas, yang dinilainya lebih efisien dan berkapasitas besar dibanding oven listrik.
“Soalnya kalau listrik kan mahal. Terus kapasitasnya kecil. Mending oven tangkring sekalian, jadi lebih banyak muatnya,” katanya.
Dalam sekali produksi, Herlinda bisa memperoleh omzet sekitar Rp600 ribu hingga Rp1 juta, tergantung banyaknya pesanan. Produksi biasanya dilakukan 1–2 kali seminggu menyesuaikan stok dan ketersediaan bahan baku.
Ia juga menerima pesanan khusus di luar produksi rutin, dengan syarat minimal 50 mika. Satu mika berisi 20 buah kue Elat Sapi, dijual dengan harga Rp16 ribu.“Kalau ada pesanan di luar jadwal, bisa saja, tapi minimal 50 mika supaya seimbang dengan biaya produksi,” jelasnya.
Menurut Herlinda, rahasia keberhasilan usahanya adalah menjaga kualitas rasa. Ia menolak menggunakan gula merah yang tidak memenuhi standar, karena hal itu berpengaruh pada rasa dan tekstur.
“Semoga bahan baku tetap stabil, terutama gula merah, supaya hasilnya juga bagus karena saya mementingkan rasa dan kualitasnya,” tuturnya.
Dengan sertifikat halal dan izin BPOM yang sudah dikantongi, Herlinda berharap produk Elat Sapinya bisa semakin berkembang dan menjangkau pasar lebih luas. Ia juga berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah, terutama untuk mendukung pengadaan bahan baku dan peralatan produksi.
“Kalau bahan baku terjaga dan ada pendampingan, produk tradisional seperti Elat Sapi bisa jadi oleh-oleh khas Kutai yang lebih dikenal,” tambahnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecul Menengah (Diskop-UKM) Kukar, Thaufiq Zulfian Noor, mengapresiasi upaya Herlinda menjaga cita rasa kue tradisional sekaligus meningkatkan kualitas produknya dengan sertifikasi resmi. Menurutnya, langkah tersebut penting agar produk UMKM lokal bisa bersaing dengan makanan modern.
“Kue Elat Sapi ini adalah warisan kuliner Kutai yang harus dijaga. Kami di Diskop-UKM Kukar siap mendampingi pelaku UMKM seperti Bu Herlinda, baik dalam promosi, pengemasan modern, maupun perluasan pasar. Produk yang sudah halal dan BPOM tentu lebih mudah masuk ke toko ritel maupun pameran nasional,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen menjadikan kuliner lokal sebagai salah satu kekuatan ekonomi kreatif. “UMKM seperti ini harus naik kelas. Dengan dukungan bersama, Kue Elat Sapi bisa menjadi ikon oleh-oleh Kukar yang dikenal luas, bahkan berpeluang menembus pasar nasional,” pungkasnya. (Adv)





