URBANKALTIM.COM – Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kini berubah menjadi tuntutan global agar juga diberlakukan di Lebanon, setelah Israel terus melanjutkan serangan militernya ke wilayah tersebut meski kesepakatan damai sementara telah diumumkan, Kamis (9/4/2026). Sejumlah negara Barat dan sekutu internasional kompak mendesak Israel menghentikan operasi militernya demi mencegah konflik Timur Tengah meluas.
Tekanan diplomatik terhadap Israel datang dari Perancis, Inggris, Australia, Spanyol, hingga Italia. Negara-negara itu menilai Lebanon tidak seharusnya dikecualikan dari skema penghentian konflik yang telah disepakati Washington dan Teheran selama dua pekan.
Sebelumnya, kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata AS-Iran. Pernyataan itu memicu gelombang kritik internasional karena dianggap membuka ruang eskalasi perang baru.
Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Noel Barrot menjadi salah satu tokoh pertama yang mengecam sikap Israel. Ia menilai serangan terbaru ke Lebanon justru merusak peluang perdamaian yang baru mulai terbentuk.
“Serangan-serangan ini semakin tidak dapat diterima karena merusak gencatan senjata sementara,” kata Jean-Noel Barrot.
Inggris juga ikut menekan Israel agar menghentikan bombardir di Lebanon. Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper menegaskan bahwa gencatan senjata AS-Iran harus diperluas agar mencakup Lebanon.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese juga menyampaikan keprihatinan serupa. Ia menilai kesepakatan damai yang ada saat ini sangat rapuh dan tidak akan efektif jika Lebanon tetap menjadi arena serangan.
Dari Madrid, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez melontarkan kritik lebih keras. Ia menuding langkah Israel memperburuk krisis kemanusiaan dan bertentangan dengan hukum internasional.
“Penghinaannya terhadap kehidupan dan hukum internasional tidak dapat ditoleransi,” ujar Pedro Sanchez.
Italia pun bergabung dalam tekanan internasional. Menteri Luar Negeri, Antonio Tajani menegaskan bahwa dunia harus mencegah Lebanon berubah menjadi “Gaza kedua” akibat operasi militer berkepanjangan Israel.
Situasi di lapangan terus memburuk. Data terbaru menunjukkan sedikitnya 255 orang tewas dan lebih dari 1.165 orang terluka dalam serangan Israel sehari terakhir di Lebanon. Pemerintah Lebanon telah menetapkan hari berkabung nasional.
Di tengah tekanan global itu, Hizbullah mulai membalas dengan meluncurkan roket ke wilayah utara Israel. Kelompok tersebut menyebut serangan itu sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa Lebanon seharusnya masuk dalam kerangka damai yang telah disepakati bersama AS. Menurut dia, Washington tidak bisa memisahkan perang Iran dengan konflik yang melibatkan Israel di Lebanon.
“Ketentuan gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit,” kata Abbas Araghchi.
Jika Israel tetap menolak memasukkan Lebanon dalam skema damai, tekanan dunia diperkirakan akan terus meningkat dan memperbesar risiko runtuhnya gencatan senjata yang baru berjalan singkat itu. (UK)





