URBANKALTIM.COM, TENGGARONG – Kehadiran bajaj di Tenggarong membawa warna baru dalam sistem transportasi di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Moda yang identik dengan kota besar itu kini muncul dengan pendekatan berbeda, memadukan cara lama dengan teknologi modern.
Dalam waktu singkat sejak mulai beroperasi, bajaj langsung mendapat respons positif dari masyarakat. Meski baru berjalan kurang dari sepekan, layanan ini mulai dilirik sebagai alternatif transportasi dalam kota.
Layanan bajaj saat ini berpusat di kawasan Sumarna City Walk (SCW) Tenggarong. Sekitar 10 unit armada sudah melayani sejumlah rute dalam kota hingga wilayah sekitar.
Salah satu pengemudi, Syarif Apiannur, menyebut minat masyarakat mulai terlihat sejak hari-hari awal operasional. Ia merasakan langsung peningkatan jumlah penumpang dari waktu ke waktu.
Dalam sehari, jumlah penumpang yang dilayani bahkan sudah mencapai belasan orang. Angka itu didapat hanya dalam setengah hari operasional.
“Sekarang sudah lumayan ramai. Saya bisa dapat sekitar 15 penumpang, itu pun setengah hari saja,” ujar Syarif, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, tren ini menunjukkan bahwa bajaj mulai diterima masyarakat sebagai pilihan transportasi baru di Tenggarong. Kehadiran moda ini juga dinilai memberi opsi tambahan di tengah keterbatasan angkutan umum.
Berbeda dari citra konvensionalnya, bajaj di Tenggarong kini menggunakan sistem tarif berbasis jarak. Perhitungan dilakukan melalui aplikasi Maxride yang disiapkan sebagai acuan.
Namun, layanan ini tetap mempertahankan fleksibilitas cara lama. Penumpang tidak wajib menggunakan aplikasi untuk menikmati layanan.
Pengemudi tetap melayani penumpang yang menghentikan kendaraan secara langsung di jalan. Hal ini menjadi solusi bagi masyarakat yang belum terbiasa dengan sistem digital.
“Tarif tergantung jarak. Kami punya aplikasi untuk menghitung jaraknya,” katanya.
Selain itu, kemudahan akses juga menjadi nilai lebih dari layanan ini. Warga bisa memilih antara memesan lewat aplikasi atau menggunakan cara konvensional.
“Kalau ada ibu-ibu atau yang tidak bisa pakai aplikasi, bisa langsung stop saja,” tambahnya.
Saat ini, rute layanan bajaj masih difokuskan di wilayah Tenggarong hingga Loa Tebu. Namun, jangkauan layanan perlahan mulai diperluas.
Beberapa perjalanan ke luar kecamatan bahkan sudah mulai dilayani. Hal ini menjadi indikasi awal adanya potensi pengembangan layanan ke depan.
Syarif menyebut jumlah armada kemungkinan akan ditambah seiring meningkatnya minat masyarakat. Ia juga membuka peluang ekspansi layanan ke wilayah lain.
“Sekarang fokus di Tenggarong dulu, nanti kemungkinan bisa berkembang lagi, termasuk buka layanan di Samarinda,” tutupnya. (UK)





