Krisis Dokter di Tabang, Layanan Medis Kini Andalkan Konsultasi Jarak Jauh

Oleh redaksi

pada Selasa, 14 April 2026

Puskesmas Tabang (Istimewa)

URBANKALTIM.COM, TENGGARONG – Persoalan kekurangan tenaga dokter di Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), belum menemukan solusi. Kondisi ini memaksa pelayanan kesehatan di wilayah tersebut berjalan dengan skema darurat melalui konsultasi jarak jauh.

Ketiadaan dokter aktif di salah satu puskesmas menjadi titik krisis layanan. Tenaga kesehatan yang ada tetap melayani pasien, namun harus bergantung pada arahan dokter dari lokasi lain.

Camat Tabang, Riyandi Elvandar menjelaskan, kekosongan dokter terjadi sejak tenaga medis sebelumnya memasuki masa pensiun. Hingga kini, posisi tersebut belum terisi kembali.

Ia menegaskan kebutuhan dokter di wilayahnya sangat mendesak. Kekosongan ini bahkan sudah berlangsung cukup lama tanpa solusi permanen.

“Kalau kebutuhan dokter memang iya, karena dokter yang bertugas sebelumnya sudah pensiun,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Dalam kondisi tersebut, pelayanan kesehatan tetap berjalan dengan sistem konsultasi jarak jauh. Tenaga kesehatan di Puskesmas Tabang berkoordinasi melalui telepon dengan dokter yang bertugas di Puskesmas Ritan Baru.

Baca juga  Gedung Ekraf Kukar Segera Difungsikan, Mutasi Aset Masuk Tahap Akhir

Skema ini menjadi satu-satunya cara agar pasien tetap mendapatkan penanganan medis, meski tanpa kehadiran dokter secara langsung di lokasi.

“Untuk tindakan medis, tenaga kesehatan di sini berkoordinasi lewat telepon dengan dokter di Ritan Baru,” kata Riyandi.

Di Kecamatan Tabang sendiri terdapat dua puskesmas, yakni di pusat kecamatan dan di Desa Ritan Baru. Untuk Puskesmas Ritan Baru, pelayanan masih berjalan meski dokter yang bertugas tengah dalam kondisi sakit.

Sementara itu, Puskesmas Tabang sepenuhnya tidak memiliki dokter aktif. Hal ini membuat sistem pelayanan harus disesuaikan agar tetap bisa menjangkau kebutuhan masyarakat.

Upaya pengisian tenaga dokter dari Dinas Kesehatan belum berjalan optimal. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan jumlah dokter di seluruh wilayah Kutai Kartanegara.

Baca juga  Jelang HKG PKK 2025, Muara Badak Siapkan Ajang Penggerak Ekonomi Lokal

Di sisi lain, kebijakan terbaru tidak lagi memperbolehkan pemerintah daerah mengontrak tenaga dokter non ASN. Padahal, skema tersebut sebelumnya menjadi solusi cepat untuk daerah terpencil.

“Sekarang tidak dimungkinkan lagi mengontrak dokter di luar ASN,” ujarnya.

Selain persoalan tenaga medis, keterbatasan fasilitas pendukung juga dirasakan masyarakat. Ketersediaan obat di puskesmas relatif aman untuk pelayanan dasar, baik rawat jalan maupun rawat inap.

Namun, warga kesulitan ketika membutuhkan obat di luar layanan puskesmas. Di Tabang belum tersedia apotek, hanya toko obat dengan jenis terbatas.

Kondisi ini berdampak pada pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, kolesterol, dan asam urat yang membutuhkan obat rutin.

Pemerintah kecamatan terus mencari jalan keluar atas persoalan ini. Salah satunya dengan menggandeng pihak swasta untuk membantu penyediaan tenaga dokter.

Baca juga  Taklukkan PSM, Borneo FC Kembali ke Puncak Klasemen BRI Super League

Perusahaan besar di wilayah Tabang diharapkan dapat berkontribusi melalui klinik yang mereka miliki.

“Saya mencoba minta bantuan ke perusahaan agar dokter dari klinik mereka bisa bertugas beberapa hari,” ujarnya.

Selain itu, terdapat dokter swasta yang membuka praktik pada hari tertentu. Namun layanan tersebut bersifat umum dan berbayar, sehingga belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat.

Riyandi juga berharap program penanganan kesehatan yang pernah berjalan sebelumnya bisa dihidupkan kembali, termasuk keterlibatan dokter spesialis turun langsung ke lapangan.

Di tengah berbagai keterbatasan, ia memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan dengan koordinasi intensif di tingkat kecamatan.

“Kami tetap memberikan pelayanan, dengan koordinasi langsung di bawah kecamatan agar masyarakat tetap terlayani,” pungkasnya. (UK)

Bagikan: