URBANKALTIM.COM – DPR RI menilai konflik di Timur Tengah telah berkembang melampaui batas regional dan menjadi ancaman global. Pernyataan ini disampaikan dalam forum parlemen dunia yang membahas eskalasi konflik kawasan.
Anggota DPR RI, Jazuli Juwaini menyampaikan hal tersebut dalam Sidang Inter-Parliamentary Union yang digelar di Istanbul pada 15 hingga 19 April 2026. Ia hadir sebagai utusan tetap untuk urusan Timur Tengah.
Dalam forum tersebut, Jazuli menegaskan konflik yang terjadi tidak lagi bersifat lokal. Ia menilai eskalasi yang melibatkan banyak negara telah memperbesar risiko krisis global.
Menurutnya, agresi Israel terhadap Palestina menjadi akar persoalan yang memicu siklus kekerasan berkepanjangan. Selama kondisi tersebut tidak dihentikan, stabilitas kawasan dinilai sulit tercapai.
Ia juga menyoroti meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran. Konflik tersebut disebut telah merembet ke sejumlah negara lain di kawasan dan memicu dampak luas.
“Konflik tersebut telah berkembang menjadi krisis regional yang melibatkan banyak negara dan aktor global,” ujar Jazuli, Senin (20/4/2026).
Jazuli menilai dampak konflik tidak hanya pada aspek keamanan. Krisis juga merambah sektor ekonomi, energi, hingga stabilitas sosial di berbagai negara.
Gangguan terhadap jalur perdagangan strategis menjadi salah satu risiko utama. Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik dinilai membuka potensi konflik yang lebih besar.
Ia menegaskan pendekatan militer bukan solusi untuk menyelesaikan persoalan. Justru, langkah tersebut dinilai memperparah penderitaan kemanusiaan.
“Ini bukan sekadar konflik geopolitik, tetapi tragedi kemanusiaan,” kata Jazuli.
Dalam kesempatan itu, Jazuli mendesak IPU untuk mengambil langkah konkret. Ia menilai forum internasional tidak cukup hanya mengeluarkan pernyataan atau kecaman.
Ia mendorong semua pihak, termasuk Israel, Amerika Serikat, dan Iran, kembali ke meja perundingan. Penegakan hukum internasional tanpa standar ganda juga menjadi hal yang ditekankan.
Selain itu, ia menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mendukung kemerdekaan Palestina. Sikap tersebut disebut sebagai bagian dari amanat konstitusi dan tanggung jawab kemanusiaan.
“Dunia tidak boleh terus membiarkan penderitaan ini,” tegas Jazuli. (UK)





