Pasar Tangga Arung Square Sepi, Bupati Kukar Minta Evaluasi

Oleh redaksi

pada Jumat, 16 Oktober 2026

Pasar Tangga Arung Square (Urbankaltim)
Pasar Tangga Arung Square (Urbankaltim)

URBANKALTIM.COM, TENGGARONG – Pasar Tangga Arung Square di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, masih menghadapi tantangan untuk menarik pengunjung.

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menilai kondisi tersebut perlu dievaluasi, terutama untuk mengetahui penyebab kawasan itu belum ramai dan menentukan langkah yang dapat meningkatkan daya tariknya.

Persaingan dengan munculnya destinasi wisata dan tempat kuliner baru turut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar.

Kehadiran berbagai tempat baru membuat pengelola ruang publik dan pusat aktivitas ekonomi perlu menawarkan sesuatu yang mampu menarik minat masyarakat.

Aulia mengatakan, keberadaan fasilitas dan lokasi strategis belum tentu menjamin sebuah kawasan ramai dikunjungi.

Pengelola perlu memahami kebutuhan konsumen sekaligus mengevaluasi konsep yang ditawarkan agar sesuai dengan minat pengunjung.

“Ini menjadi tantangan. Seperti yang terjadi di Pasar Tangga Arung Square, kemudian muncul juga beberapa tempat wisata baru dan wisata kuliner baru,” serunya, Jumat (16/10/2028).

Baca juga  Internet Gratis Masuk Usulan RT-KU Terbaik Kukar, Anggaran Rp12 Juta per RT

“Kita bisa mendorong wawasan dan melihat prospek Pasar Tangga Arung Square, apa penyebabnya sepi, dan apa yang bisa membuat Pasar Tangga Arung Square menjadi ramai. Itu juga menjadi salah satu hal yang menjadi fokus ke depan,” timpal Aulia.

Evaluasi Pasar Tangga Arung Square menjadi penting untuk mengetahui faktor yang memengaruhi jumlah kunjungan.

Pembenahan tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan fasilitas, tetapi juga perlu mempertimbangkan pengalaman yang ditawarkan kepada masyarakat.

Kawasan tersebut perlu memiliki alasan yang kuat agar masyarakat tertarik datang dan kembali berkunjung.

Hal ini dapat berkaitan dengan konsep kawasan, aktivitas yang tersedia, hingga pengalaman yang membedakannya dari lokasi lain.

Namun, penyebab pasti sepinya Pasar Tangga Arung Square belum dijelaskan secara terperinci.

Karena itu, evaluasi yang disoroti Aulia perlu diarahkan untuk mengidentifikasi persoalan sekaligus menemukan peluang pengembangan kawasan.

Langkah tersebut juga berkaitan dengan upaya menjadikan ruang publik sebagai pusat aktivitas ekonomi.

Baca juga  Izin Kawasan Belum Terbit, Dua Dusun di Sangatta Selatan Tetap Gelap Gulita

Ketika kunjungan meningkat, peluang pelaku usaha untuk menjangkau konsumen juga dapat terbuka lebih luas.

Selain Pasar Tangga Arung Square, Aulia turut menyoroti bermunculannya tempat wisata kuliner baru di Tenggarong.

Menurutnya, pengelola perlu memikirkan strategi untuk menarik pengunjung, bukan hanya mengandalkan tempat berkumpul atau lokasi untuk bersantai.

Keunikan konsep menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar setiap destinasi mempunyai ciri khas.

Dengan demikian, tempat kuliner baru tidak hanya bersaing dalam menyediakan ruang berkumpul, tetapi juga mampu menawarkan pengalaman yang membuat konsumen tertarik untuk datang.

“Untuk tempat-tempat wisata kuliner baru yang bermunculan di Tenggarong, harapan kita pihak pengelola juga tidak mengabaikan bagaimana caranya menarik wisatawan datang,” katanya.

Persaingan antardestinasi tersebut menjadi tantangan bagi pelaku usaha untuk memahami pasar yang ingin dijangkau.

Pengelola perlu melihat potensi konsumen sekaligus mengembangkan keunggulan yang membedakan tempat usahanya dari pilihan lain.

Baca juga  Bawa Nama Kukar ke Pentas Dunia, Devan Siap Duel Kontra Jordan Boy

Aulia juga menyinggung keterbatasan jumlah penduduk Tenggarong sebagai tantangan bagi usaha yang hanya mengandalkan konsumen lokal.

Kondisi tersebut membuat pengelola destinasi kuliner perlu memperluas sasaran pasar agar peluang usaha tidak terbatas pada masyarakat yang tinggal di kota tersebut.

“Kalau kita hanya berharap pada jumlah penduduk, mungkin anak muda atau orang yang tinggal di kota ini tidak sebanyak kota-kota lain atau daerah lain di Kalimantan Timur,” ungkapnya.

Menurut Aulia, pengelola perlu menciptakan sesuatu yang berbeda agar tempat kuliner di Tenggarong mampu menjangkau konsumen dari luar daerah.

Strategi tersebut diharapkan dapat memperbesar potensi kunjungan sekaligus memperluas pasar bagi pelaku usaha.

“Namun, harapan kita, para pengelola tempat-tempat kuliner baru yang bermunculan di Tenggarong bisa membuat sesuatu yang berbeda. Harapannya, bukan hanya anak-anak muda Tenggarong yang nongkrong, tetapi juga bisa menarik pelanggan atau konsumen dari luar kota dan daerah sekitarnya,” tutupnya. (Adv)

Bagikan: