TENGGARONG – Fahmi Hariyadi, pemuda asal Tenggarong yang tinggal di Jalan Gunung Belah, terus melanjutkan usaha jajak cincin atau kue cincin di pasar malam. Usaha ini merupakan warisan turun-temurun dari keluarganya yang kini ia kembangkan dengan semangat tinggi.
Fahmi menceritakan, usaha kue cincin mulai diproduksi dan dijual sejak 2012 oleh orang tuanya. Setelah orang tuanya meninggal pada 2024, ia meneruskan usaha tersebut.
“Resep jajak cincin itu merupakan resep turun temurun dari keluarga, jadi orang tua saya berpikiran membuka usaha jualan yaitu kue cincin. Awal mula tercetus ingin berjualan kue cincin, ketika orang tua saya melihat di sekeliling pasar tidak ada yang menjual kue tersebut, sehingga beliau berpikiran akan menjual kue itu,” tuturnya, Kamis (11/9/2025).
Setiap penjualan, Fahmi bisa memproduksi sekitar 700 biji kue cincin, dengan harga per 4 biji Rp 5.000. Ia menjual jajak cincin di beberapa pasar malam: Selasa di Pasar Mangkuraja, Kamis di Pasar Mangkurawang, Jumat di Pasar Taman Ulin, dan Sabtu di Pasar Rapak Mahang.
Fahmi mengungkapkan, tantangan terbesar saat merintis usaha adalah tidak memiliki lemari es untuk menyimpan adonan sisa. “Adonan yang tidak habis tidak bisa disimpan karena tidak punya lemari es, dan itu menyebabkan kerugian,” katanya.
Selain itu, kondisi cuaca juga sering menjadi kendala, terutama hujan saat pasar malam, yang membuat pengunjung berkurang dan penjualan menurun.
Meski begitu, ia tetap senang meneruskan bisnis keluarga dan berharap usahanya dapat berkembang lebih besar, bahkan menjadi lapangan pekerjaan bagi orang lain.
“Semoga usaha ini berjalan dengan lancar dan lebih banyak lagi orang yang tahu tentang jajak cincin ini,” tutup Fahmi. (Adv)





