SANGATTA — Regenerasi petani menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), mengingat jumlah petani muda terus menurun di saat kebutuhan produksi pangan semakin meningkat. Tantangan ini membuat sektor pertanian menghadapi ancaman kekurangan tenaga produktif dalam beberapa tahun mendatang.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim menyiapkan strategi khusus agar profesi petani kembali diminati generasi muda, sekaligus menghadirkan model pertanian yang lebih aman dan modern.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, menyebut dua faktor utama yang membuat anak muda enggan terjun ke pertanian yakni besarnya risiko gagal panen dan metode kerja tradisional yang dianggap tidak menarik dan tidak menguntungkan.
“Anak-anak muda tidak mau terjun ke pertanian kalau risikonya besar dan sistemnya masih tradisional. Karena itu alat modern dan asuransi menjadi syarat penting,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, pada 2026 pemerintah mulai menerapkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Seluruh premi akan ditanggung Pemkab Kutim, sehingga petani, terutama petani pemula tidak lagi menanggung risiko finansial saat gagal panen akibat banjir, hama, atau cuaca ekstrem.
“Ini bukan hanya perlindungan, tapi juga motivasi. Kalau risikonya kecil, tentu anak muda lebih berani terjun,” tambah Dessy.
Skema ini diharapkan menjadi titik balik persepsi generasi muda bahwa pertanian adalah sektor berisiko tinggi.
Selain perlindungan asuransi, DTPHP Kutim juga menyiapkan skema insentif produktivitas.
Kelompok tani yang didominasi petani muda akan menjadi prioritas dalam pelatihan mekanisasi, manajemen produksi modern, pemanfaatan digital marketing untuk komoditas pangan, serta pendampingan teknis berbasis kebutuhan lapangan.
Program ini masuk dalam rencana besar pertanian Kutim 2026–2030 yang menargetkan munculnya generasi petani modern, produktif, dan melek teknologi.
Dessy menegaskan bahwa produktivitas akan meningkat jika petani muda memiliki pengetahuan dan akses teknologi sejak awal.
DTPHP juga menyiapkan kebijakan prioritas bantuan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) untuk kelompok tani muda.
Langkah ini dilakukan agar petani pemula dapat langsung bekerja dengan sistem mekanisasi tanpa harus melalui cara-cara manual yang lambat dan menguras tenaga.
Alsintan yang akan diprioritaskan meliputi traktor roda dua dan empat, rice transplanter, pompa air berbasis listrik, serta teknologi pascapanen sesuai kebutuhan wilayah.
“Transfer teknologi itu penting. Kalau petani muda langsung bekerja dengan alat modern, pola kerja mereka otomatis berubah,” jelas Dessy.
Selain dukungan alat dan pelatihan, DTPHP juga mulai membuka peluang kemitraan dengan perusahaan-perusahaan lokal, terutama sektor perkebunan sawit yang memiliki tenaga agronomis dan fasilitas pelatihan internal.
Model kerja sama ini memberikan ruang bagi petani muda untuk belajar langsung praktik pengelolaan lahan secara profesional sebelum terjun penuh ke pertanian pangan. (Adv)





