URBANKALTIM.COM, JAKARTA – PT Garuda Indonesia (GIAA) masih membukukan kerugian besar sepanjang tahun buku 2025, meski telah menerima suntikan dana Rp23,67 triliun dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagatha Nusantara atau BPI Danantara.
Maskapai pelat merah itu mencatat rugi bersih sebesar US$319,39 juta, setara sekitar Rp5,42 triliun. Di saat bersamaan, dana jumbo yang dikucurkan Danantara belum mampu sepenuhnya mengangkat kinerja keuangan perseroan.
Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan mengatakan, tekanan terhadap kinerja perusahaan masih terjadi seiring proses konsolidasi operasional yang berjalan sepanjang tahun lalu.
“Penurunan ini terjadi seiring fase konsolidasi operasional yang tengah dijalankan untuk memperkuat fundamental bisnis perusahaan,” ujar Glenny dalam keterangan resmi, Rabu (9/4/2026).
Sepanjang 2025, pendapatan usaha konsolidasi Garuda Indonesia tercatat sebesar US$3,22 miliar. Angka itu turun 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari total dukungan pendanaan sekitar Rp23,7 triliun, sekitar 64 persen atau Rp15 triliun dialokasikan untuk Citilink. Sementara Garuda Indonesia memperoleh sekitar Rp8,7 triliun yang difokuskan untuk percepatan perawatan dan reaktivasi armada.
Dana tersebut juga dipakai untuk membantu penyelesaian kewajiban Citilink kepada Pertamina. Namun, distribusi dana itu belum cukup cepat mengembalikan performa operasional grup usaha penerbangan tersebut.
Menurut Glenny, salah satu tekanan terbesar datang dari terbatasnya kapasitas produksi, terutama pada semester pertama 2025. Banyak armada belum dapat dioperasikan karena masih menunggu jadwal perawatan rutin.
Kondisi itu membuat jumlah pesawat siap terbang belum optimal, sehingga memengaruhi kapasitas penerbangan dan pendapatan perusahaan.
Selain persoalan armada, Garuda Indonesia juga dibebani fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Tekanan kurs dinilai ikut memperbesar beban keuangan perusahaan.
Di sisi lain, biaya tetap meningkat seiring intensifnya program pemulihan armada yang terus dijalankan hingga akhir 2026.
Manajemen berharap langkah perawatan armada yang kini dipercepat bisa menjadi fondasi pemulihan bisnis dalam jangka menengah. Optimalisasi armada dinilai menjadi kunci agar Garuda dapat keluar dari tekanan kerugian berkepanjangan.
“Kerugian juga dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar rupiah serta meningkatnya biaya tetap seiring intensifnya program pemulihan armada,” ujar Glenny. (UK)





