Rumah Sakit Beirut Nyaris Lumpuh, 1.150 Korban Luka Membludak Pascabombardir Israel

Oleh redaksi

pada Sabtu, 11 April 2026

Ibu Kota Lebanon porak poranda karena serangan Israel 8/4/2026 (Istimewa)

URBANKALTIM.COM, LEBANON – Rumah sakit di Beirut nyaris lumpuh setelah gelombang korban terus berdatangan usai serangan udara Israel mengguncang Lebanon pada Rabu. Dalam serangan yang menghantam lebih dari 100 titik hanya dalam 10 menit itu, sedikitnya 303 orang tewas dan 1.150 lainnya terluka.

Lonjakan korban membuat ruang gawat darurat di berbagai rumah sakit Beirut penuh dalam waktu singkat. Tenaga medis dipaksa bekerja di bawah tekanan tinggi untuk menangani pasien luka berat yang datang hampir bersamaan.

Di Rumah Sakit Universitas Amerika Beirut, situasi berubah kacau hanya beberapa menit setelah ledakan terjadi. Salah Zeineldine mengatakan rumah sakit menerima puluhan korban dalam waktu kurang dari satu jam.

Baca juga  Israel Disebut “Kanker”, Pernyataan Menhan Pakistan Ganggu Upaya Damai Iran-AS

“Dalam waktu kurang dari satu jam, kami menerima sekitar 76 orang yang terluka. Sayangnya, enam orang tidak selamat,” kata Zeineldine, Kamis (10/4/2026).

Zeineldine mengungkapkan, banyak pasien yang masuk ke ruang darurat adalah anak-anak dengan luka serius. Korban termuda bahkan masih bayi dan harus segera dipindahkan ke unit perawatan intensif.

Ia menyebut anak tertua yang dirawat berusia 12 tahun. Dua bayi lainnya, masing-masing berusia beberapa bulan dan beberapa minggu, masuk ICU karena kondisinya kritis.

Baca juga  Menuju Moskow, Menteri Luar Nergeri Iran Siap Bertemu Putin Bahas Konflik

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 110 anak-anak, perempuan, dan lansia termasuk dalam daftar korban tewas. Sebagian besar korban mengalami patah tulang dan trauma kepala akibat tertimpa puing bangunan runtuh.

Tekanan berat juga dirasakan rumah sakit lain di ibu kota. Antoine Zoghbi dari Palang Merah Lebanon menilai serangan kali ini menjadi salah satu yang paling membebani sistem kesehatan negara itu.

Menurut dia, serangan berlangsung serentak di banyak wilayah dan datang tanpa peringatan, membuat rumah sakit sulit melakukan persiapan maksimal.

“Hari ini berbeda karena mereka menyerang tanpa peringatan,” ujar Zoghbi, Kamis (10/4/2026).

Baca juga  Rusia, China, dan Prancis Veto Resolusi Militer Arab untuk Buka Selat Hormuz

Rumah Sakit Hotel-Dieu de France memang menerima lebih sedikit pasien dibanding RS Universitas Amerika Beirut, namun Zoghbi menegaskan kapasitas layanan medis Lebanon terus menipis. Jika serangan berulang, rumah sakit dikhawatirkan tak lagi mampu menampung lonjakan korban.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO juga memperingatkan sejumlah rumah sakit di Lebanon terancam kehabisan alat medis trauma dalam beberapa hari ke depan. Krisis ekonomi yang telah berlangsung sejak 2019 memperburuk pasokan obat-obatan dan energi.

“Akankah kami masih memiliki peralatan, obat-obatan, untuk terus melakukan apa yang perlu dilakukan?” kata Zoghbi. (UK)

Bagikan: