Rupiah Melemah, Gubernur BI Pastikan Nilainya Masih Undervalued

Oleh redaksi

pada Jumat, 24 April 2026

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Istimewa)

URBANKALTIM.COM – Nilai tukar rupiah terus melemah dalam beberapa waktu terakhir. Namun Bank Indonesia memastikan kondisi tersebut tidak mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi nasional.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menegaskan rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers, Rabu (22/4/2026).

“Rupiah Melemah, BI Pastikan Nilainya Masih Undervalued,” ujar Perry.

Berdasarkan data BI, rupiah berada di level Rp17.140 per dollar AS pada 21 April 2026. Nilai ini melemah sekitar 0,87 persen dibandingkan akhir Maret 2026.

Baca juga  Rupiah Jadi Mata Uang Terlemah di Asia Sentuh Rp 17.300

Perry menjelaskan, tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal. Salah satunya dampak konflik geopolitik global yang memicu kenaikan harga minyak dan penguatan dollar AS.

Selain itu, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental,” kata Perry.

Untuk menjaga stabilitas, BI terus memperkuat bauran kebijakan. Langkah ini mencakup kebijakan moneter, makroprudensial, hingga sistem pembayaran.

Baca juga  Perbaikan Program MBG, Pemberian Disesuaikan Hari Sekolah

Intervensi dilakukan di berbagai pasar, mulai dari non-deliverable forward di luar negeri hingga transaksi spot dan DNDF di dalam negeri. Upaya ini dilakukan untuk meredam volatilitas nilai tukar.

BI juga menjaga kecukupan cadangan devisa yang mencapai 148,2 miliar dollar AS per akhir Maret 2026. Selain itu, penyesuaian suku bunga instrumen keuangan domestik dilakukan untuk menarik aliran modal asing.

Di tengah tekanan global, BI menilai kondisi ekonomi domestik tetap solid. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen sepanjang 2026.

Baca juga  Ukraina Siap Bantu Buka Selat Hormuz di Tengah Konflik Timur Tengah

Sementara inflasi dijaga dalam rentang sasaran dan likuiditas pasar tetap memadai. Hal ini tercermin dari pertumbuhan uang primer yang mencapai 11,8 persen secara tahunan pada Maret 2026.

Perry menegaskan, dengan kondisi tersebut rupiah memiliki peluang untuk kembali stabil bahkan menguat.

“Secara fundamental nilai tukar rupiah kita akan stabil dan cenderung menguat,” ujar Perry. (UK)

Bagikan: