Tarsul Hingga Tari: Bupati Kutim Sebut Magic Land Sebagai Ruang Tumbuhnya Seni Lokal

Oleh redaksi

pada Senin, 17 November 2025

Penampilan tari di Magic Land (Urbankaltim)

SANGATTA – Penutupan Festival Magic Land pada Minggu (16/11/2025) kembali menegaskan bahwa Kutai Timur memiliki potensi seni yang berkembang pesat dan semakin mendapat tempat di hati generasi muda.

Cahaya panggung yang memantul di antara tepuk tangan penonton menciptakan suasana penuh energi, menandai betapa besar antusiasme masyarakat terhadap seni dan budaya lokal.

Beragam penampilan mulai dari musik, tari, hingga karya kreatif digital tampil silih berganti, menunjukkan bahwa Magic Land telah menjadi ruang penting bagi ekspresi dan pertumbuhan seni di Kutai Timur.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, yang menutup langsung rangkaian kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa Magic Land bukan hanya festival hiburan semata, melainkan ruang edukasi budaya yang harus terus hidup dan berkembang.

Ia menilai keberadaan festival ini sangat strategis dalam membangun kesadaran masyarakat, khususnya anak muda, terhadap identitas daerahnya.

Baca juga  Rainbow Slide Kandolo Digarap Lewat Skema CSR, Target Rampung Tahun Ini

“Kutai Timur ini penuh dengan kekayaan yang luar biasa, dan festival seperti Magic Land bisa menjadi ruang edukasi budaya bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Bupati, Magic Land mampu memunculkan talenta seni muda yang semakin percaya diri.

Ia melihat bahwa keterlibatan generasi muda dalam dunia seni tidak hanya menghidupkan panggung festival, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keberlanjutan identitas Kutai Timur di tengah perubahan zaman.

“Kata Magic Land itu menunjukkan bahwa kita memiliki semuanya, baik alam, budaya, maupun kreativitas masyarakatnya,” katanya.

Pada tahun ini, pentas Magic Land menampilkan ragam karya yang lebih variatif.

Tarian daerah, musik modern yang dipadukan unsur lokal, hingga karya kolaborasi antar-komunitas seni tampil secara menonjol.

Baca juga  Stadion Rondong Demang Bakal Jadi Kawasan Olahraga Modern, Renovasi Dilakukan Mulai 2026

Ardiansyah memberikan apresiasi besar atas semangat tersebut.

“Kita melihat luar biasa, pegiat-pegiat seni kita sudah mulai muncul, dan ini menunjukkan kebangkitan seni lokal,” tuturnya.

Bupati menilai Magic Land sebagai momentum penting untuk memperkuat budaya daerah.

Ia menegaskan perlunya ruang kreatif yang konsisten agar talenta seni bisa berkembang dari waktu ke waktu, tanpa harus meninggalkan akar budaya Kutai Timur.

“Kita harapkan ini menjadi aset budaya untuk masa depan, karena tradisi kita perlu ruang tumbuh yang konsisten,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti kesenian tarsul, tradisi tutur khas masyarakat Melayu Kutai, yang menurutnya harus terus diwariskan.

Tarsul direncanakan menjadi salah satu agenda utama dalam Festival Pesona Budaya mendatang sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali warisan leluhur.

Baca juga  GEMA Kukar Jadi Langkah Nyata Bangun Generasi Cinta Al-Quran

“Tarsul nanti akan dilombakan dalam Pesona Budaya, agar generasi muda semakin mengenal dan melestarikannya,” jelasnya.

Antusiasme penonton sepanjang acara menunjukkan bahwa seni lokal kembali menemukan peminatnya.

Magic Land 2025 dianggap berhasil menghidupkan ruang kreatif yang memberi kesempatan bagi seniman pemula maupun yang sudah berpengalaman untuk menampilkan karya mereka.

Suasana hangat dan penuh optimisme pada malam penutupan menjadi penanda bahwa festival ini membawa dampak positif bagi perkembangan seni di Kutai Timur.

Bupati menutup keterangannya dengan pesan bahwa masa depan seni daerah bergantung pada keberanian generasi muda untuk terus berkarya.

“Magic Land membuktikan bahwa seni lokal kita tumbuh kuat. Saya ingin anak-anak muda Kutai Timur terus percaya diri menjaga dan mengembangkan warisan budaya daerah,” pungkasnya. (Adv)

Bagikan: