URBANKALTIM.COM, BALIKPAPAN – Pemerintah menegaskan arah baru kemandirian energi nasional lewat peresmian Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan yang dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada pada Senin (12/1/2026).
Dengan investasi jumbo senilai USD 7,4 miliar atau sekitar Rp123 triliun, proyek strategis ini diproyeksikan menjadi pengungkit utama ekonomi nasional sekaligus penopang ketahanan energi jangka panjang.
Mulai dari penguatan ketahanan energi, penghematan devisa, hingga dorongan signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Saat ini, RDMP Kilang Balikpapan tercatat sebagai RDMP terbesar di Indonesia, dengan kapasitas pengolahan kilang mencapai 360 ribu barel per hari.
Melonjak sekitar 100 ribu barel dari yang sebelumnya hanya berkapasitas 260 ribu barel per hari.
Lonjakan kapasitas ini diproyeksikan akan menjadi kunci pengurangan ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menegaskan, peningkatan kapasitas tersebut berdampak langsung pada penghematan devisa negara.
“Dengan RDMP ini, kita bisa menghemat devisa lebih dari Rp 60 triliun. Tambahan produksi bensin mencapai 5,8 juta kiloliter per tahun,” jelas Bahlil.
Sebagai perbandingan, konsumsi bensin nasional saat ini berada di kisaran 38 juta kiloliter per tahun.
Dengan produksi domestik awal 14,25 juta kiloliter yang kini ditambah 5,8 juta kiloliter dari RDMP Balikpapan, volume impor bensin Indonesia dipangkas hingga tersisa sekitar 19 juta kiloliter per tahun.
Di luar isu energi, dampak ekonomi RDMP Balikpapan juga dinilai sangat besar.
Proyek ini telah menyerap 24.000 tenaga kerja, dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 30 persen, angka yang mencerminkan keterlibatan industri nasional dalam proyek bernilai ratusan triliun rupiah tersebut.
Lebih jauh, Bahlil menyebut kontribusi RDMP Balikpapan terhadap PDB nasional mencapai Rp 514 triliun per tahun.
Angka ini menempatkan proyek kilang sebagai salah satu penggerak ekonomi paling signifikan di sektor energi dan industri pengolahan.
“Penyerapan tenaga kerja mencapai 24.000 orang dengan TKDN 30 persen. Peningkatan PDB sebesar Rp 514 triliun per tahun dari hasil kinerja proyek ini,” tegasnya.
Dari sisi lingkungan, RDMP Balikpapan juga dirancang setara standar Euro 5 dan menjadi bagian dari transisi menuju net zero emission.
Modernisasi kilang memungkinkan produksi BBM yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi energi.
Meski demikian, Bahlil mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak berhenti pada pembangunan kilang.
Fokus berikutnya adalah peningkatan lifting migas, yang menjadi pekerjaan rumah terbesar pemerintah dalam menjaga kesinambungan pasokan energi nasional.
“Dengan implementasi ini ke depan, tinggal kita fokus bagaimana meningkatkan lifting. Ini tantangan paling besar,” pungkasnya. (UK)





