URBANKALTIM.COM – Rusia, China, dan Prancis memveto resolusi yang diajukan negara-negara Arab untuk membuka Selat Hormuz melalui aksi militer terhadap Iran. Langkah ini membuat upaya tersebut gagal di Dewan Keamanan PBB.
Resolusi itu sebelumnya diajukan untuk menjamin kebebasan navigasi global di jalur vital energi dunia. Namun tiga negara berkekuatan nuklir tersebut menolak penggunaan kekuatan militer.
Seorang diplomat dan pejabat senior PBB menyebut negara-negara Arab mendorong resolusi yang mengizinkan aksi militer. Tujuannya untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Mengutip laporan The New York Times (4/4/2026), Rusia, China, dan Prancis menegaskan sikap mereka menolak segala bentuk legitimasi penggunaan kekuatan dalam resolusi tersebut.
“Penentangan prinsipil terhadap setiap bahasa yang mengizinkan penggunaan kekuatan,” demikian posisi ketiga negara itu.
Sikap ini memicu tafsir bahwa Iran berpeluang tetap menekan jalur distribusi energi global. Dampaknya bisa memperpanjang gangguan pasokan minyak dunia.
Perkembangan ini juga memperlihatkan perpecahan tajam di tingkat global. Amerika Serikat dan Israel tetap melanjutkan operasi militer terhadap Iran, sementara dorongan gencatan senjata belum direspons.
Ketegangan di kawasan semakin meningkat sejak serangan udara gabungan dilancarkan pada 28 Februari. Serangan itu menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah. Targetnya mencakup Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk.
Serangan balasan itu memicu korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Pasar energi global juga ikut terguncang akibat konflik yang terus meluas.
Namun demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan negaranya mampu membuka Selat Hormuz. Ia bahkan menyinggung potensi keuntungan besar dari langkah tersebut.
“Dengan sedikit waktu lagi, kita dapat dengan mudah membuka Selat Hormuz,” tulis Donald Trump. (UK)





