URBANKALTIM.COM – Upaya mengakhiri konflik antara Iran dan Amerika Serikat mulai menunjukkan perkembangan signifikan. Kedua negara dilaporkan tengah membahas skema gencatan senjata selama 45 hari sebagai langkah awal menuju kesepakatan damai.
Proposal ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan yang telah mengganggu stabilitas kawasan, termasuk jalur vital Selat Hormuz. Pembahasan dilakukan melalui mediasi Pakistan yang menjadi penghubung utama komunikasi kedua pihak.
Sumber yang mengetahui proses negosiasi (Reuters) menyebutkan, rencana ini disusun dalam dua tahap. Tahap pertama berupa gencatan senjata segera, diikuti perundingan lanjutan untuk kesepakatan permanen.
Pembicaraan intensif disebut melibatkan sejumlah pejabat penting. Di antaranya Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Menurut laporan Axios, skema gencatan senjata selama 45 hari ini menjadi bagian krusial untuk meredakan konflik. Dalam periode tersebut, kedua pihak akan merampungkan poin-poin kesepakatan jangka panjang.
Kesepakatan awal juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini terdampak konflik. Jalur ini sebelumnya hanya dibuka terbatas oleh Iran sejak perang pecah pada akhir Februari.
“Semua elemen perlu disepakati hari ini,” kata sumber tersebut, dilansir Times of Israel, Senin (6/4/26).
Selat Hormuz memiliki peran strategis dalam perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global melintasi jalur tersebut setiap hari.
Pembatasan akses selama konflik telah memicu kekhawatiran pasar global. Banyak negara bergantung pada kelancaran distribusi energi dari kawasan Teluk.
Di tengah proses negosiasi, tekanan juga datang dari Presiden AS Donald Trump. Ia sebelumnya mengancam akan meningkatkan serangan jika Iran tidak membuka kembali jalur pelayaran tersebut.
Di sisi lain, Iran disebut belum sepenuhnya menyatakan komitmen terhadap seluruh isi proposal. Salah satu poin penting dalam pembahasan adalah jaminan tidak mengembangkan senjata nuklir sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi.
Meski demikian, adanya pembahasan gencatan senjata ini menjadi sinyal positif bagi upaya meredakan konflik. Dunia kini menunggu apakah kesepakatan ini benar-benar dapat diwujudkan dalam waktu dekat. (UK)





