Bupati Kukar Salurkan Bantuan untuk Petani Terdampak Puso di Rapak Lambur

Oleh redaksi

pada Rabu, 8 April 2026

Penyaluran bagi petani terdampak gagal panen di Desa Rapak Lambur (Istimewa)

URBANKALTIM.COM, TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) bergerak cepat merespons gagal panen yang melanda Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong. Sebanyak 153 kepala keluarga terdampak setelah ratusan hektare sawah rusak akibat banjir berulang.

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri turun langsung ke lokasi untuk menyalurkan bantuan. Langkah ini dilakukan guna menjaga ketahanan pangan warga sekaligus memastikan petani tetap bisa melanjutkan siklus tanam berikutnya.

Dari total 342,25 hektare lahan yang ditanami, sekitar 148 hektare mengalami puso. Dampak ini dirasakan oleh 153 kepala keluarga atau 542 jiwa yang bergantung pada hasil pertanian.

Sebagai langkah awal, pemerintah daerah menyalurkan bantuan beras sebanyak 9.756 kilogram atau setara 1.084 karung. Bantuan tersebut menjadi penyangga kebutuhan pangan warga yang kehilangan hasil panen.

Bupati menegaskan bantuan ini difokuskan untuk meringankan beban masyarakat terdampak. Pemerintah juga memastikan distribusi dilakukan secara langsung agar tepat sasaran.

Baca juga  Pemkab Kukar Libatkan Publik dan Kelompok Disabilitas Susun RPJMD 2025–2030

“Bantuan ini tentunya untuk berusaha meringankan beban saudara-saudara kita yang mendapat musibah gagal panen ini,” ujar Aulia, Rabu (8/4/2026).

Selain bantuan pangan, pemerintah daerah juga menyalurkan benih padi untuk fase pemulihan. Total 1.250 kilogram benih disiapkan agar petani dapat segera kembali menanam.

Langkah ini menjadi penting karena sebagian besar petani kehilangan stok benih akibat gagal panen yang terjadi berulang. Tanpa intervensi, siklus tanam berikutnya berisiko terhenti.

Aulia menyebut bantuan benih ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi pertanian. Pemerintah ingin petani tidak kehilangan momentum untuk kembali berproduksi.

“Harapan kita dengan bantuan ini bisa untuk membantu warga masyarakat kita menyambung kehidupannya kembali dan kembali recovery untuk melaksanakan penanaman siklus selanjutnya,” kata Aulia.

Ia memastikan pemerintah daerah akan menindaklanjuti berbagai kebutuhan petani di lapangan. Sejumlah kendala teknis akan segera dicarikan solusi agar tidak menghambat proses tanam.

Baca juga  Ramadan Satukan Mahasiswa Kutim, HIPMA-KT Gelar Buka Bersama Penuh Kehangatan di Kenyamukan

“Kita akan segera carikan jalan keluarnya, mana-mana yang bisa cepat kita eksekusi akan cepat kita eksekusi untuk kita serahkan kepada petani,” tegasnya.

Di sisi lain, persoalan banjir yang terus berulang masih menjadi tantangan utama. Kepala Desa Rapak Lambur, Muhammad Yusuf menyebut wilayahnya memang rentan terdampak luapan Sungai Mahakam.

Ketinggian air bahkan bisa mencapai 50 hingga 80 sentimeter dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat lahan sawah terendam dan merusak tanaman.

“Kalau banjir itu bisa sampai 50 cm atau hampir 80 cm. Dalam satu malam pasti terendam,” ujar Yusuf.

Genangan air juga bertahan cukup lama. Dalam beberapa kasus, air baru surut setelah berbulan-bulan.

“Banyak yang bisa bertahan itu bisa sampai 4 bulan, karena lambat turunnya,” katanya.

Menurutnya, kebutuhan petani saat ini tidak hanya bantuan pangan dan benih. Infrastruktur seperti irigasi, alat pertanian, hingga tanggul pengendali banjir juga mendesak untuk dibenahi.

Baca juga  BPBD Kukar Gerak Cepat Evakuasi Warga di Tengah Banjir, Hadapi Tantangan Keterbatasan Peralatan

Ia menilai fasilitas yang ada saat ini belum optimal. Bahkan sebagian peralatan seperti pompa air sudah tidak lagi berfungsi maksimal.

“Yang pertama adalah irigasi, alsintan, dan ada beberapa tadi adalah pupuk dan benih padi,” ujarnya.

Yusuf berharap ke depan ada peningkatan infrastruktur, terutama tanggul untuk menahan luapan air. Hal ini dinilai penting untuk menekan risiko gagal panen berulang.

“Mungkin ke depan bisa dibantu peninggian tanggul,” ujarnya.

Di tengah kondisi sulit, bantuan dari pemerintah menjadi penopang utama bagi warga. Terlebih sebagian besar masyarakat di desa tersebut menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

“Kalau untuk benih padi memang sudah terjadi dua kali gagal panen dan mengakibatkan benih padinya mereka tidak ada stok lagi,” tutupnya. (UK)

Bagikan: