Rusia Minta Lebanon Jadi Bagian Gencatan Senjata AS-Iran

Oleh redaksi

pada Jumat, 10 April 2026

Menteri Luar Negeri, Sergei Lavrov (Istimewa)

URBANKALTIM.COM – Rusia mendesak agar Lebanon dimasukkan dalam cakupan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul serangan besar-besaran Israel ke wilayah Lebanon yang dinilai mengancam stabilitas kawasan.

Desakan itu disampaikan Moskow setelah Israel kembali menggempur sejumlah titik di Lebanon, termasuk Beirut, di tengah masa gencatan senjata sementara antara AS dan Iran yang masih berlangsung. Rusia menilai kesepakatan damai tersebut tidak cukup bila hanya membatasi konflik pada dua negara.

Pemerintah Rusia menyampaikan sikap itu melalui percakapan telepon antara Menteri Luar Negeri, Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Kamis (9/4/2026).

Baca juga  Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal, Iran Murka Usai Israel Gempur Lebanon

Dalam pernyataan resmi, Rusia menegaskan bahwa gencatan senjata AS-Iran memiliki dampak regional dan harus mencakup Lebanon sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari konflik Timur Tengah saat ini.

“Sangat yakin bahwa perjanjian-perjanjian ini memiliki dimensi regional dan, khususnya, berlaku untuk Lebanon,” demikian pernyataan pemerintah Rusia.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova juga mengecam keras serangan Israel. Menurutnya, agresi terbaru itu berisiko menggagalkan proses diplomasi yang sedang dibangun.

Zakharova menilai eskalasi militer Israel justru memperumit peluang terciptanya stabilitas jangka panjang di kawasan. “Tindakan agresif semacam itu mengancam untuk menggagalkan proses negosiasi yang sedang berlangsung,” ujarnya.

Baca juga  SBY Titip Pesan ke Prajurit di Lebanon Jaga Diri Baik Baik

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tidak akan menghentikan serangan terhadap Hizbullah. Ia menyebut operasi militer akan terus dilakukan demi keamanan warga Israel.

Netanyahu menyampaikan Israel akan terus menyerang target-target Hizbullah di mana pun dianggap perlu. Pernyataan itu keluar sehari setelah gelombang serangan udara besar menghantam Lebanon.

“Kami akan terus menyerang Hizbullah di mana pun diperlukan,” kata Netanyahu.

Militer Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 100 pusat komando dan lokasi militer Hizbullah hanya dalam waktu 10 menit. Sasaran utama berada di pinggiran selatan Beirut, Lebanon selatan, dan Lembah Bekaa.

Baca juga  Dua Gol Debut Kaio Nunes dan Koldo Obieta Antar Borneo FC Kalahkan PSIM 2-1

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 182 orang tewas dan 890 lainnya terluka akibat serangan terbaru Israel.

Jumlah itu menambah korban dalam enam pekan terakhir menjadi sekitar 1.700 orang meninggal dunia, termasuk sedikitnya 130 anak-anak.

Serangan yang terus berlanjut ini membuat tekanan internasional terhadap Israel semakin meningkat. Rusia kini menjadi salah satu negara yang paling vokal mendorong perluasan skema damai agar Lebanon tidak semakin terjerumus dalam konflik terbuka.

“Pesan kami jelas, siapa pun yang bertindak melawan warga sipil Israel, kami akan menyerang mereka,” tegas Netanyahu. (UK)

Bagikan: