Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal, Iran Murka Usai Israel Gempur Lebanon

Oleh redaksi

pada Kamis, 9 April 2026

Serangan Israel terhadap Iran (Istimewa)

URBANKALTIM.COM – Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran terancam gagal setelah Iran bereaksi keras atas serangan besar-besaran Israel ke Lebanon, Rabu (8/4/2026). Teheran menilai eskalasi terbaru itu telah merusak dasar negosiasi yang baru saja dibangun.

Ketegangan meningkat ketika Israel melancarkan salah satu serangan paling intens ke Lebanon, termasuk di Beirut. Sedikitnya 182 orang tewas dan hampir 900 lainnya terluka menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut serangan itu membuat pembicaraan lanjutan dengan Washington menjadi sulit diteruskan. Menurut dia, fondasi utama perundingan kini telah runtuh.

Baca juga  Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel-Lebanon Selama 10 Hari

“Dasar yang dapat digunakan untuk bernegosiasi telah dilanggar,” tulis Ghalibaf.

Pernyataan itu menjadi sinyal paling jelas bahwa Iran membuka kemungkinan meninggalkan jalur diplomasi jika serangan Israel terus berlanjut.

Washington menolak anggapan bahwa serangan Israel ke Lebanon melanggar kesepakatan. Wakil Presiden AS, JD Vance menegaskan Lebanon tidak pernah menjadi bagian dari gencatan senjata antara AS dan Iran.

Menurut Vance, keputusan Iran untuk menggagalkan negosiasi karena isu Lebanon sepenuhnya berada di tangan Teheran. Ia menilai konflik Hizbullah dan Israel berada di luar kerangka perundingan damai.

Baca juga  Kasus Nikel Seret Ketua Ombudsman Hery Susanto, Diduga Terima Rp1,5 Miliar

“Jika Iran ingin membiarkan negosiasi ini gagal karena Lebanon, itu pada akhirnya adalah pilihan mereka,” kata Vance.

Israel menegaskan operasi militernya terhadap Hizbullah tetap berjalan meski ada kesepakatan penghentian sementara permusuhan antara AS dan Iran.

Perdana Menteri, Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya masih memiliki target yang belum selesai, termasuk upaya melumpuhkan kekuatan Hizbullah di Lebanon.

Di tengah situasi itu, Iran juga menyoroti dugaan pelanggaran lain oleh AS, termasuk masuknya drone ke wilayah udaranya dan penolakan terhadap hak pengayaan uranium.

Baca juga  Kepala Intelijen IRGC Majid Khademi Tewas dalam Serangan Israel

Krisis ini terjadi menjelang perundingan penting Iran-AS di Pakistan pada Jumat. Pertemuan itu sebelumnya diharapkan menjadi jalan menuju kesepakatan jangka panjang.

Namun suasana kini berubah tegang setelah Iran kembali mengisyaratkan bisa menarik diri. Di saat bersamaan, Gedung Putih juga mengecam penutupan kembali Selat Hormuz yang dinilai mengancam stabilitas global.

“Penutupan apa pun sama sekali tidak dapat diterima,” kata Karoline Leavitt. (UK)

Bagikan: