URBANKALTIM.COM – Pemerintah Indonesia terus mengupayakan jalur diplomasi agar kapal milik Pertamina bisa melintasi Selat Hormuz dengan aman. Hingga kini, kapal tersebut masih tertahan di tengah ketegangan kawasan.
Upaya ini dilakukan di tengah situasi yang belum sepenuhnya kondusif. Ketegangan di sekitar Teluk Persia membuat akses pelayaran belum kembali normal.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl, mengatakan pemerintah terus berkomunikasi dengan pihak Iran. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kapal Pertamina bisa melintas dengan aman.
Ia menjelaskan bahwa respons dari pemerintah Iran sejauh ini cukup positif. Namun prosesnya tetap membutuhkan waktu karena situasi keamanan yang masih berkembang.
“Intinya kami mengupayakan agar kapal Pertamina bisa melintasi dari Selat Hormuz,” kata Vahd, Rabu (8/4/2026).
Pemerintah memastikan pasokan energi dalam negeri tetap aman. Meski demikian, jalur Hormuz tetap menjadi perhatian karena merupakan salah satu rute penting distribusi minyak dunia.
Berdasarkan data pelacakan kapal, dua kapal tanker yang beroperasi untuk Pertamina masih berada di wilayah Teluk Persia hingga Sabtu (11/4/2026).
Kapal Pertamina Pride terpantau berada di lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi. Sementara kapal Gamsunoro berada di sekitar perairan Dubai, Uni Emirat Arab.
Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz harus mengikuti prosedur yang berlaku.
Ia menjelaskan bahwa kondisi kawasan belum sepenuhnya aman. Karena itu, setiap kapal wajib melalui proses koordinasi dengan otoritas keamanan Iran.
“Pada masa perang, ada beberapa protokol yang harus dilalui terkait kapal-kapal yang hendak melewati Selat Hormuz,” ujar Boroujerdi, Sabtu (11/4/2026). (UK)





