Rendi Solihin Geram Soal Pembagian Retribusi Tangga Arung Square, 90 Persen Dinikmati Pihak Ketiga

Oleh redaksi

pada Jumat, 1 Mei 2026

Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin di Pasar Tangga Arung Square (Istimewa)

URBANKALTIM.COM, TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) menyoroti rendahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari operasional Pasar Tangga Arung Square.

Sejak pertama kali diresmikan pada awal Januari 2026, kontribusi yang masuk ke kas daerah dinilai jauh dari ekspektasi.

Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, mengaku terkejut setelah mengetahui angka PAD yang dihasilkan dari kawasan tersebut.

Ia menilai capaian tersebut tidak sebanding dengan besarnya investasi pembangunan yang telah digelontorkan pemerintah daerah.

Baca juga  Pasca Diresmikan, Pasar Tangga Arung Square Mulai Ramai

Menurutnya, dari berbagai sumber seperti retribusi, parkir, dan sewa lapak, total pendapatan hanya berkisar ratusan juta rupiah.

Kondisi ini mendorong memicu evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan yang selama ini berjalan.

“Kami akhirnya geram dengan PAD yang dihasilkan. Pasar Tanggaru Square baru 200 juta dalam tiga bulan,” tegasnya.

Rendi Solihin kemudian mengungkap salah satu penyebab utama rendahnya pendapatan tersebut.

Ia menemukan adanya pembagian hasil parkir yang dinilai tidak proporsional antara pemerintah dan pihak ketiga.

Baca juga  IRMA Ramadan Fair 2025 Resmi Dibuka, Semarakkan Syiar Islam dan Ekonomi Kreatif di Kukar

Dalam skema yang berjalan saat ini, sebagian besar pendapatan parkir justru dinikmati oleh pengelola eksternal.

Hal ini dinilai tidak logis mengingat fasilitas tersebut dibangun menggunakan anggaran pemerintah.

“Ternyata pembagiannya 90 banding 10. Enak banget, 90 persen ke pihak ketiga,” ujarnya.

Ia menegaskan, jika aset dibangun oleh pemerintah, maka seharusnya porsi terbesar juga kembali ke daerah.

Baca juga  Resmi, DPP PDI Perjuangan Kembali Usung Edi-Rendi di Pilkada Kukar

Skema saat ini dianggap tidak mencerminkan keadilan pengelolaan aset publik.

Pemerintah daerah memastikan tidak akan berlarut dalam kondisi ini.

Evaluasi besar terhadap sistem pengelolaan pasar akan segera dilakukan sebagai langkah perbaikan.

Rendi menegaskan fokus utama saat ini bukan mencari kesalahan, melainkan memastikan sistem yang lebih sehat dan menguntungkan daerah ke depan.

“Kita nggak usah cari siapa yang salah. Kita mau menata yang lebih baik,” tutupnya. (UK)

Bagikan: