SANGATTA – Distransnaker Kutai Timur di bawah kepemimpinan Roma Malau tancap gas membenahi basis data ketenagakerjaan, dengan fokus pendataan tenaga kerja outsourcing, tenaga kerja asing (WNA), hingga pekerja mandiri.
Langkah ini menjadi agenda prioritas Roma Malau setiap tahunnya.
Ia menegaskan, Kutim belum memiliki data komprehensif terkait jumlah pekerja di setiap perusahaan, termasuk asal KTP tenaga kerja, komposisi tenaga outsourcing, serta keberadaan WNA.
“Kita belum tahu pasti apakah yang mereka pekerjakan itu ber-ktp mana, outsourcing berapa dan tenaga kerja WNA berapa orang serta dari negara mana,” kata Roma Malau pada Rabu (12/11/2025).
Roma menilai kelengkapan data menjadi kunci untuk mengeksekusi visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Kutim di bidang ketenagakerjaan.
Tanpa data yang akurat, pemerintah daerah akan kesulitan menetapkan kebijakan strategis maupun melakukan pengawasan.
Menurutnya, langkah awal yang akan ditempuh adalah mendata seluruh perusahaan besar yang beroperasi di Kutim, terutama perusahaan sektor energi dan industri.
“Makanya akan kita lakukan dengan mendata perusahaan. Kita prioritaskan PT KPC dan PT Kobexindo Cement. Ada berapa total tenaga karyawannya, berapa orang tenaga outsourcing dan tenaga kerja warga negara asing (WNA),” tegasnya.
Sebagai instansi yang juga menangani transmigrasi, Distransnaker Kutim turut menyiapkan pemetaan tenaga kerja mandiri dan petani transmigran berdasarkan komoditas yang dikembangkan.
Pemetaan ini menjadi dasar penyaluran program pembinaan maupun peningkatan kapasitas.
“Jadi ini tahap awal yang akan kita laksanakan. Mendata perusahaan dan tenaga kerjanya kemudian pemetaan tenaga kerja mandiri,” tambahnya.
Roma—mantan Dosen Universitas Trunojoyo Bontang—menegaskan bahwa seluruh indikator kinerja di sektor ketenagakerjaan hanya dapat diukur apabila data tersedia secara lengkap dan valid.
Karena itu, pembenahan data menjadi pondasi utama arah kebijakan Distransnaker Kutim di tahun 2025. (ADV)





