Kutim Pacu Optimalisasi Lahan, OPLAH Jadi Andalan Perluas 700 Hektare Areal Produktif pada 2026

Oleh redaksi

pada Senin, 24 November 2025

Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan

SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) semakin memprioritaskan percepatan perluasan areal tanam melalui program Optimalisasi Lahan (OPLAH) sebagai strategi utama memperkuat ketahanan pangan daerah. Program ini kembali dijadikan motor utama peningkatan produksi karena dinilai lebih efisien, cepat, dan minim hambatan teknis dibandingkan pencetakan sawah baru.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, menjelaskan bahwa OPLAH dirancang untuk mengaktifkan kembali lahan tidur menjadi areal produktif dalam waktu yang lebih singkat. Banyak lahan petani dinilai masih memiliki potensi besar, namun belum dikelola secara optimal.

Baca juga  Usai Aksi Demo, Bupati Aulia Bentuk Tim Khusus Tangani Konflik Lahan PT BDAM

“Banyak lahan petani sebenarnya masih potensial, hanya belum dioptimalkan. Program OPLAH menjawab kebutuhan itu,” ujarnya pada Senin (24/11/2025).

Dessy menegaskan bahwa OPLAH mampu menambah luas tanam dengan biaya lebih rendah, sekaligus menghadirkan hasil nyata hanya dalam satu hingga dua musim tanam. Efisiensi inilah yang membuat program tersebut terus diperluas setiap tahun.

Sejak awal 2024, DTPHP mencatat lebih dari 300 hektare lahan berhasil dioptimalkan melalui OPLAH.

Pada 2026, pemerintah menargetkan penambahan 700 hektare areal produktif, sebagai bagian dari strategi jangka menengah Kutim untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Kalau kita ingin mengejar kemandirian pangan, maka setiap hektare lahan harus digunakan secara maksimal. Kutim punya potensi luas, tinggal optimalisasi dan penataan airnya,” jelasnya.

Baca juga  Nyoblos di TPS 22 Timbau, Bupati Edi Damansyah Tegaskan Demokrasi Harus Diperkuat Lewat Partisipasi

Selain membuka peluang tanam lebih besar, OPLAH juga membawa dampak ekonomi yang signifikan.

Banyak kelompok tani yang sebelumnya hanya menanam sekali dalam setahun kini mampu melaksanakan dua kali musim tanam berkat perbaikan saluran air dan dukungan alat mesin pertanian (alsintan).

DTPHP memastikan pendampingan intensif, mulai dari perencanaan, penyiapan lahan, hingga distribusi bantuan alat.

Pendampingan ini, kata Dessy, penting agar petani tidak hanya menerima fasilitas, tetapi juga mampu menjaga produktivitas secara mandiri dalam jangka panjang.

Baca juga  Dialog Kepemudaan Kukar Tekankan Akses Setara, Pemuda Diminta Siap Ambil Peran di Sektor Strategis

Tahun depan, OPLAH akan diintegrasikan dengan program bantuan pompa air dan pembuatan sumur dangkal.

Dua instrumen ini dianggap krusial untuk menjaga produksi di wilayah tadah hujan dan memastikan kontinuitas musim tanam.

Kecamatan Rantau Pulung, Kaubun, dan Bengalon akan menjadi tiga wilayah prioritas karena memiliki cadangan lahan tidur terbesar yang dinilai siap dioptimalkan.

Dessy menegaskan bahwa OPLAH bukan sekadar program kerja tahunan, tetapi strategi besar Kutim untuk memastikan ketahanan pangan lebih kuat dalam lima tahun ke depan.

“Kami berharap petani dapat memanfaatkan program ini secara maksimal,” tutupnya. (Adv)

Bagikan: