SANGATTA — Di atas tanah merah yang mulai diratakan, puluhan jemaat Gereja Toraja Jemaat Prima Sangatta berdiri dalam suasana senja yang syahdu. Cahaya matahari yang meredup menyatu dengan doa-doa yang dinaikkan, menghadirkan momen sakral yang menandai awal perjalanan sebuah rumah ibadah yang telah lama dinantikan.
Namun lebih dari sekadar seremoni, peletakan batu pertama pada Kamis (13/11/2025) itu memunculkan satu pesan besar: di tengah derasnya arus pembangunan dan dinamika ekonomi Kutai Timur, masyarakat membutuhkan ruang spiritual sebagai jangkar kehidupan.
Ketika Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman tiba dan disambut hangat oleh jemaat, ia membawa pesan bahwa pembangunan manusia tidak boleh tertinggal di balik geliat pembangunan fisik. Meski baru selesai bertemu pekerja yang terdampak PHK, ia tetap meluangkan waktu hadir, menunjukkan bahwa pembangunan rumah ibadah merupakan bagian penting dari keseimbangan sosial.
“Pertama-tama kita bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa,” ucapnya membuka sambutan, nada suaranya memantulkan ketulusan sekaligus kelegaan.
Dalam pesannya, Ardiansyah menekankan bahwa gereja bukan sekadar bangunan melainkan ruang pembentukan karakter. Ia menggambarkan rumah ibadah sebagai tempat yang menjaga keteguhan moral masyarakat, terutama ketika perubahan ekonomi menghadirkan tantangan baru.
“Daerah kita ini heterogen, tapi di situlah kekuatannya,” ujarnya, menyinggung harmoni antar-suku dan agama yang menjadi ciri Kutai Timur.
Menurutnya, percepatan investasi dan aktivitas industri di Kutai Timur membutuhkan penyangga nilai moral agar masyarakat tetap bijaksana menghadapi perubahan. Spiritualitas yang kuat diyakini menjadi fondasi bagi ketahanan sosial, memastikan bahwa pembangunan tidak hanya menghasilkan laporan kinerja, tetapi juga ketenangan batin dan solidaritas antarwarga.
Dalam kesempatan itu, Ardiansyah memuji langkah jemaat Gereja Toraja Prima Sangatta yang telah berhasil menghimpun dana Rp1,3 miliar untuk pembangunan gereja. Baginya, semangat kolektif ini mencerminkan model pembangunan daerah yang ingin terus diperkuat: partisipatif, transparan, dan berakar pada kekuatan masyarakat.
“Yang terbaik adalah keterlibatan masyarakat itu sendiri,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan kembali cita-cita besar yang tertuang dalam Mars Kutai Timur, terutama kata “Sejahtera” sebagai tujuan luhur yang tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kedamaian dan kekuatan spiritual warganya.
Ketika batu pertama akhirnya diletakkan, suasana hening kembali menyelimuti jemaat. Gema doa terdengar bersahutan, menjadikan momen itu sebagai perayaan harapan bahwa gereja ini kelak menjadi tempat yang memupuk nilai-nilai kebajikan, memperkuat persaudaraan, dan menuntun masyarakat menghadapi tantangan masa depan.
Pembangunan Gereja Toraja Prima Sangatta pun tidak sekadar melahirkan bangunan baru. Ia menjadi simbol komitmen bersama untuk menjaga harmoni, memperkuat spiritualitas, dan memastikan bahwa pembangunan Kutai Timur tetap berpihak pada manusia bukan hanya pada angka dan statistik ekonomi.
Dalam cahaya senja yang perlahan padam, masyarakat Kutim pulang membawa keyakinan baru, bahwa kemajuan sejati adalah ketika pembangunan fisik berjalan beriringan dengan pembangunan jiwa. (Adv)





