Humanisme Seorang Pemimpin, Ardiansyah Pilih Dampingi Pekerja PHK sebelum Hadiri Acara Gereja Toraja

Oleh redaksi

pada Kamis, 13 November 2025

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman

SANGATTA — Peletakan batu pertama Gereja Toraja Jemaat Prima Sangatta, Kamis (13/11/2025), tidak hanya menghadirkan suasana religius dan penuh sukacita. Namun momen itu juga menjadi panggung tersirat yang menunjukkan wajah lain kepemimpinan Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman wajah seorang pemimpin yang menempatkan kemanusiaan di atas seremonial.

Di hadapan ratusan jemaat, Ardiansyah membuka sambutan dengan kalimat sederhana, namun sarat makna.

“Saya mohon maaf terlambat,” ujarnya dengan nada jujur yang langsung membuat ruangan hening.

Namun inti dari kata-katanya bukan pada permintaan maaf itu sendiri, melainkan alasan di balik keterlambatan yang mengungkapkan sisi humanis seorang kepala daerah.

Ardiansyah kemudian bercerita apa yang membuatnya tiba menjelang sore. Ia baru saja mendampingi sekelompok pekerja yang menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK) situasi penuh tekanan yang membutuhkan kehadiran seorang pemimpin.

Baca juga  Gerakan Pangan Murah di Tenggarong Buktikan Kolaborasi Kuat Jaga Harga dan Ketahanan Pangan

“Saya tidak bisa tinggalkan mereka,” ucapnya lirih namun mantap.

Jemaat yang mendengarkan terlihat tersentuh. Banyak yang mengangguk, memahami keputusan sang bupati untuk menyelesaikan persoalan warganya sebelum menghadiri acara keagamaan. Di tengah agenda pemerintahan yang padat, Ardiansyah memilih berdiri bersama mereka yang paling rentan.

Itu bukan sekadar kebetulan. Pilihan itu menunjukkan prioritas moral seorang pemimpin yang percaya bahwa pembangunan terbesar adalah melindungi kesejahteraan manusia.

Meski datang terlambat, Ardiansyah menegaskan bahwa kehadirannya di Gereja Toraja merupakan komitmen yang tidak bisa diabaikan. Pembangunan rumah ibadah, menurutnya, adalah bagian dari pembangunan kemanusiaan—membentuk moral, karakter, dan harmoni sosial.

Baca juga  Revisi RKAB 2026 Dinilai Tidak Cermat, Pengamat: Berpotensi Rugikan Pengusaha Tambang dan Picu Pengangguran

Ia kemudian memuji semangat luar biasa jemaat Gereja Toraja Prima Sangatta yang telah mengumpulkan dana Rp1,3 miliar untuk pembangunan gereja. Baginya, gotong royong sebesar itu adalah contoh ideal bagaimana masyarakat Kutim membangun daerahnya sendiri.

“Yang terbaik adalah keterlibatan masyarakat itu sendiri,” ujarnya mengapresiasi jemaat.

Dalam kesempatan itu, Ardiansyah kembali menekankan bahwa Kutai Timur dibangun di atas keberagaman. Beragam suku dan agama hidup berdampingan, dan pembangunan gereja ini menjadi simbol kuat bagaimana toleransi tumbuh subur di daerah tersebut.

“Ini bukan sekadar bangunan. Ini simbol kedamaian,” katanya.

Rumah ibadah, menurutnya, memberikan ruang untuk merawat spiritualitas dan kebersamaan—hal yang semakin penting di tengah dinamika ekonomi dan perubahan sosial Kutai Timur.

Baca juga  UMKM Kukar Kian Diperkuat, Forum BIMA ETAM Jadi Akselerator Pertumbuhan

Ketika sambutan ditutup, suasana terasa berbeda. Bukan hanya karena gereja akan segera dibangun, tetapi karena jemaat menyaksikan sebuah kisah kecil tentang empati—kisah ketika seorang bupati memilih menyelesaikan masalah warganya terlebih dahulu sebelum melangkah ke panggung acara.

Bagi banyak jemaat, hari itu tidak hanya menjadi awal pembangunan gereja. Hari itu menjadi bukti bahwa Kutai Timur dipimpin oleh seseorang yang tidak hanya memegang jabatan, tetapi juga memegang hati masyarakatnya.

Pembangunan gereja akan terus berlanjut. Namun yang tertanam kuat dalam ingatan adalah pesan bahwa pemimpin sejati hadir bukan hanya di podium, tetapi di sisi rakyatnya pada saat mereka paling membutuhkan. (Adv)

Bagikan: