Rainbow Slide Kandolo Digarap Lewat Skema CSR, Target Rampung Tahun Ini

Oleh redaksi

pada Rabu, 26 November 2025

Ilustrasi Rainbow Slide yang sedang dibangun di Desa Kandolo (Istimewa)

SANGATTA – Desa Kandolo, Kecamatan Teluk Pandan, menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak harus sepenuhnya bertumpu pada APBDes.

Melalui kolaborasi pendanaan berbasis Corporate Social Responsibility (CSR), desa ini kembali menuntaskan pembangunan wahana wisata Rainbow Slide yang ditargetkan selesai pada 2025.

Proyek multiyears senilai Rp750 juta itu memanfaatkan skema cost sharing antara Dana Desa, Alokasi Dana Desa (ADD), dan CSR perusahaan tambang.

Pola kolaborasi ini menjadi strategi efektif bagi Desa Kandolo mengembangkan destinasi wisata tanpa membebani keuangan desa.

Kepala Desa Kandolo, Alimuddin, menjelaskan bahwa keterlambatan pencairan CSR menjadi faktor utama sempat berhentinya pekerjaan pembangunan pada tahun sebelumnya.

Baca juga  Diskominfo Kukar Gelar Halal Bihalal dan Donor Darah, Perkuat Kebersamaan Usai Ramadan

“Karena ini cost sharing, dana CSR kadang turun tidak bersamaan. Itu yang bikin pekerjaan terhenti,” jelasnya.

Dari total anggaran Rp750 juta, sekitar Rp500 juta berasal dari CSR perusahaan, sedangkan sisanya Rp250 juta ditopang Dana Desa dan ADD.

Dominasi CSR menunjukkan besarnya peran sektor swasta dalam membantu mempercepat pengembangan wisata desa.

Alimuddin menegaskan bahwa CSR menjadi instrumen penting karena porsi Dana Desa memiliki aturan penggunaan yang ketat.

“Dana Desa itu sudah ada peruntukan dari pusat. Untuk pembangunan wisata, kita butuh dukungan swasta,” ujarnya.

Material utama seperti rel dan perlengkapan prosotan sebenarnya telah tersedia.

Baca juga  Distransnaker Tegaskan Job Fair Jadi Senjata Utama Kutim Tekan Pengangguran

Namun pengerjaan landasan Rainbow Slide sempat terhambat karena proses teknis yang dititipkan ke PT Indomilco belum berjalan maksimal.

Setelah dilakukan evaluasi dan koordinasi ulang, pembangunan kini kembali dilanjutkan.

Rainbow Slide diproyeksikan menjadi daya tarik baru setelah desa lebih dahulu mengembangkan wisata sawah dan embung.

Sejumlah fasilitas pendukung—mulai dari homestay, gazebo, kantor Pokdarwis hingga gerai UMKM—telah dibangun melalui dukungan Dinas Pariwisata.

Selain itu, landmark I Love Kandolo yang berdiri di atas bukit juga mulai menjadi spot favorit bagi pengunjung untuk berswafoto.

Rencana pembangunan kolam renang yang sempat digagas sebelumnya gagal diteruskan karena persoalan kontraktor.

Baca juga  25 Pemuda Kukar Ikuti Workshop Animasi, Dispar Siapkan Talenta Kreatif Lokal

Namun Alimuddin memastikan fokus kini diarahkan pada percepatan Rainbow Slide.

“Insyaallah tahun ini rampung Rainbow Slide-nya. Kita target prosotannya selesai,” tegasnya.

Dengan hadirnya Rainbow Slide, Pemerintah Desa berharap jumlah kunjungan wisata meningkat dan membuka peluang ekonomi masyarakat, utamanya bagi UMKM dan jasa pendukung wisata seperti kuliner, souvenir, dan homestay.

Model pengembangan wisata berbasis CSR ini menjadi contoh bahwa kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan perusahaan mampu mempercepat pertumbuhan destinasi wisata lokal tanpa melanggar aturan penggunaan dana desa.

“Rainbow Slide ini bukan hanya proyek fisik, tapi bentuk kemitraan yang mendukung ekonomi masyarakat,” tutup Alimuddin. (Adv)

Bagikan: