Urban Kaltim – PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) terus memperkuat implementasi Green and Smart Port (GSP) sebagai bagian dari transformasi berkelanjutan di sektor kepelabuhanan perusahaan.
Langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam mendorong pengelolaan pelabuhan yang modern, ramah lingkungan, aman, dan berbasis digital guna mendukung kelancaran rantai pasok nasional.
Implementasi GSP Pupuk Kaltim turut mendapat perhatian Kementerian Koordinator Bidang Pangan melalui peninjauan langsung terhadap fasilitas kepelabuhanan perusahaan.
Peninjauan tersebut menjadi bagian dari penguatan koordinasi implementasi Green and Smart Port, khususnya dalam aspek lingkungan, tata kelola, keselamatan, kesehatan kerja, kebersihan, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Senior Vice President (SVP) SBU Jasa Pelayanan Pelabuhan (JPP) Pupuk Kaltim, Deplian Maherdianta, mengatakan implementasi GSP merupakan wujud komitmen perusahaan menghadirkan layanan kepelabuhanan yang tidak hanya unggul dari sisi operasional, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan.
Menurutnya, berbagai langkah dilakukan untuk mendukung penerapan konsep tersebut, mulai dari penguatan sistem manajemen pelabuhan, peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, pengelolaan lingkungan berkelanjutan, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan efektivitas operasional.
“Transformasi digital menjadi salah satu fokus utama yang terus diperkuat, mengingat hal tersebut memungkinkan proses monitoring operasional dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan transparan,” ujar Deplian.
Selain digitalisasi, aspek lingkungan menjadi perhatian penting dalam pengelolaan pelabuhan Pupuk Kaltim. Berbagai program pengelolaan limbah dan sampah terus dikembangkan untuk memastikan aktivitas kepelabuhanan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Upaya tersebut sekaligus mendukung target pembangunan berkelanjutan serta kebijakan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan.
Deplian mengatakan Pupuk Kaltim berupaya memastikan seluruh aktivitas di kawasan pelabuhan menerapkan prinsip ASRI, yakni Aman, Sehat, Resik, dan Indah.
“Kami berupaya memastikan seluruh aktivitas di kawasan pelabuhan mencerminkan prinsip ASRI. Mengingat lingkungan kerja yang aman dan nyaman akan berdampak positif terhadap kualitas operasional,” jelasnya.
Ia menambahkan, Pupuk Kaltim memandang proses evaluasi dan pemeringkatan Green and Smart Port sebagai sarana untuk melakukan pembelajaran dan perbaikan secara berkelanjutan.
Berbagai masukan dan rekomendasi dari pemerintah maupun lembaga terkait akan menjadi bahan evaluasi perusahaan dalam memperkuat tata kelola pelabuhan ke depan.
“Komitmen kami adalah menjadikan pelabuhan Pupuk Kaltim sebagai pelabuhan unggul, modern, dan berdaya saing, serta mampu menjadi contoh implementasi Green and Smart Port di Indonesia,” tambah Deplian.
Asisten Deputi Logistik Pangan Dalam Negeri Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Ridky Irfan Wirautama, mengatakan penguatan tata kelola pelabuhan merupakan bagian penting dari upaya pemerintah mendukung kelancaran sistem logistik nasional, khususnya distribusi pangan dan komoditas strategis.
Menurut Ridky, Peraturan Presiden Nomor 147 Tahun 2024 memberikan mandat kepada Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk memastikan sinkronisasi dan koordinasi berbagai sektor yang berkaitan dengan ketahanan pangan nasional.
Dalam pelaksanaannya, kata dia, dukungan infrastruktur logistik yang andal menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan agenda tersebut.
“Pelabuhan merupakan simpul logistik yang sangat strategis. Untuk itu, pemerintah mendorong agar pengelolaan pelabuhan tidak hanya berfokus pada aspek operasional, tetapi juga aspek lingkungan, keselamatan, kesehatan, kebersihan, serta pemanfaatan teknologi yang mendukung efisiensi dan transparansi,” ungkap Ridky.
Ia menjelaskan, implementasi Green and Smart Port sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam menciptakan pelabuhan yang menerapkan prinsip ASRI.
Hal tersebut juga berkaitan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan dan penanganan sampah secara lebih terintegrasi.
“Melalui program Green and Smart Port, kami ingin memastikan pelabuhan di Indonesia mampu menerapkan prinsip ASRI. Ini bukan hanya persoalan estetika atau kebersihan, tetapi juga berkaitan dengan kualitas tata kelola, keselamatan operasional, serta keberlanjutan aktivitas pelabuhan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Ridky menilai berbagai langkah yang dilakukan Pupuk Kaltim menunjukkan komitmen perusahaan dalam mendukung implementasi Green and Smart Port.
Menurutnya, penerapan konsep tersebut bukan hanya menjadi kebutuhan operasional perusahaan, tetapi juga bagian dari kontribusi sektor industri dalam mendukung agenda pembangunan nasional yang berkelanjutan.
“Kami mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan Pupuk Kaltim dalam memperkuat pengelolaan pelabuhan. Ke depan, kolaborasi ini perlu terus diperkuat agar tercipta standar pengelolaan pelabuhan yang semakin baik dan mampu mendukung daya saing nasional,” pungkas Ridky.





