TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) resmi mengoperasikan Jembatan Kedaton Agung, Selasa (23/12/2025).
Infrastruktur senilai Rp57,7 miliar ini tidak hanya menjadi pengganti Jembatan Besi Tenggarong yang sudah berusia tua, tetapi juga dirancang sebagai investasi jangka panjang dengan usia teknis hingga 100 tahun.
Jembatan baru ini menghubungkan Jalan Danau Semayang dengan kawasan Monumen Timur dan Monumen Barat, sekaligus menjadi simpul penting dalam mendukung kelancaran arus transportasi di pusat Kota Tenggarong.
Keberadaannya diproyeksikan menopang aktivitas ekonomi, terutama dengan segera diresmikannya Pasar Tangga Arung Square pada awal Januari mendatang.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri menyampaikan rasa syukur atas selesainya pembangunan jembatan tersebut.
Menurutnya, Jembatan Kedaton Agung bukan sekadar infrastruktur penghubung, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan sejarah daerah.
“Jembatan Besi merupakan peninggalan kolonial yang usianya sudah cukup tua dan berisiko jika terus dilalui kendaraan bermotor. Karena itu, jembatan lama nanti akan difungsikan khusus untuk pejalan kaki dan pesepeda,” ujarnya.
Dengan beroperasinya jembatan baru, Aulia optimistis alur lalu lintas di Tenggarong akan semakin lancar, terutama menuju Pasar Tangga Arung Sqare yang diproyeksikan sebagai pusat ekonomi baru.
“Jembatan ini akan menjadi salah satu infrastruktur penting untuk memperlancar akses ke Pasar Tangga Arung Square,” tambahnya.
Penamaan Jembatan Kedaton Agung, lanjut Aulia, merupakan arahan langsung dari Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Aji Muhammad Arifin.
Nama tersebut dipilih karena posisinya yang berdekatan dengan kawasan Kedaton serta menjadi simbol pengagungan pusat sejarah dan budaya Kutai.
Dari sisi teknis, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar Wiyono menjelaskan bahwa jembatan ini memiliki bentang tengah sepanjang sekitar 20 meter, dengan lebar 14 meter dan mampu melayani dua jalur kendaraan.
“Fasilitas pejalan kaki disediakan di sisi kanan dan kiri dengan lebar masing-masing sekitar satu meter. Untuk akses penghubung ke jalan, masing-masing sisi memiliki bentang miring sepanjang sekitar tujuh meter,” jelasnya.
Jembatan ini dibangun menggunakan teknologi girder baja, yang diklaim mampu bertahan hingga satu abad serta dapat dilintasi kendaraan berat.
Namun, operasional penuh masih menunggu penyelesaian kebocoran pipa PDAM yang menyebabkan genangan air di sekitar badan jalan.
“Saat ini kami masih berkoordinasi dengan PDAM. Perbaikan diperkirakan memakan waktu sekitar dua hari,” kata Wiyono.
Untuk sementara, jalur utama dari arah Jalan Monumen Timur sudah dapat dilalui kendaraan dua arah, sementara akses menuju Jalan DI Panjaitan dan Jalan Danau Semayang masih ditutup.
“Pengendara menuju Pasar Tenggarong Square diarahkan melalui Jalan Maduningrat,” serunya.
Seiring beroperasinya Jembatan Kedaton Agung, Jembatan Besi lama tidak lagi diperuntukkan bagi kendaraan bermotor.
Pemkab Kukar akan memasang pembatas berupa bollard agar jembatan tersebut difungsikan khusus sebagai jalur non-motorized.
“Ke depan, jembatan lama akan kami tata sebagai ruang publik untuk pejalan kaki dan pesepeda. Jika tersedia anggaran, tentu akan dilakukan perbaikan dan pemeliharaan,” pungkas Wiyono. (UK)





