URBANKALTIM.COM, TENGGARONG – Tak seperti di tempat lain, Bulan Ramadan di tepian Sungai Mahakam selalu punya cerita tersendiri.
Salah satu yang paling ikonik adalah kebiasaan warga Jantur yang menjadikan Laduman sebagai penanda waktu berbuka puasa.
Senja di tepian Sungai Mahakam, tepatnya di Desa Jantur, Kecamatan Muara Muntai, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Barat (Kubar), tidak pernah benar-benar sunyi.
Saat langit mulai dihiasi mega merah dan arus sungai memantulkan cahaya jingga terakhir, warga tidak menunggu azan sebagai penanda berbuka.
Mereka menanti satu suara yang lebih tua dari pengeras masjid, lebih berat dari gemuruh petir, dentuman Laduman yang berbunyi “Dum…”
Suara itu menggelinding di atas air, memantul ke dinding hutan dan rumah-rumah panggung, lalu hilang perlahan bersama cahaya senja.
Anak-anak yang sejak sore menahan lapar spontan bersorak.
Orang-orang dewasa saling berpandangan.
Tanda itu telah datang.
Waktu berbuka telah tiba.
Di pelataran Masjid Jam’iyatut Taqwa Desa Jantur, meriam kayu raksasa itu berdiri seperti penjaga waktu.
Bukan sekadar alat, melainkan saksi hidup tradisi yang telah bertahan lebih dari setengah abad.
Muhriadi, tokoh agama setempat sekaligus panitia pembuatan Laduman, mengingat betul cerita para orang tua tentang awal mula tradisi ini.
“Budaya ini sudah lebih 50 tahun. Dulu desa terpencil, tidak ada radio, tidak ada jam. Orang sering ketinggalan waktu berbuka,” tuturnya pelan.
Di masa ketika informasi belum menjangkau desa-desa di tepian Mahakam, warga membutuhkan tanda yang bisa didengar bersama.
Azan dari masjid kecil tak cukup menjangkau kampung-kampung yang berjajar mengikuti alur sungai.
Maka lahirlah Laduman, sepasang meriam kayu yang diarahkan ke hulu dan ke hilir.
“Makanya dibuat dua arah. Supaya semua dengar,” ujar Muhriadi.
Dari titik ledak di Jantur, dentumannya bisa terdengar hingga Kecamatan Muara Muntai ke arah hilir, bahkan sampai Penyinggahan di Kutai Barat ke arah hulu.
Suara itu bukan seperti meriam perang.
Ia berat, dalam, bergema panjang, lalu menggetarkan udara seolah senja ikut bergetar bersamanya.
Laduman bukan kayu sembarang kayu.
Ia lahir dari batang Nangka Air, kayu keras yang tumbuh di tepian sungai.
Diameter batangnya bisa mencapai 80 sentimeter hingga lebih dari satu meter, dengan panjang tujuh sampai delapan meter.
“Kalau bukan Nangka Air, tidak kuat,” tegas Muhriadi.
Batang besar itu dibelah dua.
Bagian tengahnya dikeruk menggunakan kampak dan mesin pemotong kayu hingga membentuk rongga memanjang.
Setelah itu, kedua belahan disatukan kembali.
Sambungan dilapisi ambal atau karpet agar kedap udara, lalu dikunci dengan potongan drum besi yang dipaku rapat.
Selama kurang lebih 10 hari, bunyi kapak beradu dengan kayu berpadu dengan dengung mesin.
Pengerjaan dilakukan sore hari selepas warga menyelesaikan pekerjaan utama.
Sekitar 10 orang lebih terlibat setiap hari. Canda, kelakar, dan cerita lama mengalir di sela-sela kerja.
Laduman bukan hanya dibuat, ia dirakit bersama dalam semangat gotong royong.
Biaya pembuatannya mencapai Rp20 juta.
Dana itu murni dari swadaya masyarakat per RT, dikelola panitia agar Laduman terus berbunyi sepanjang Ramadan.
Menjelang magrib, sekitar 15 menit sebelumnya, panitia mulai bersiap.
Karbit dimasukkan ke dalam rongga kayu, lalu disiram air.
Reaksi kimia menghasilkan gas yang terkumpul di dalam tabung kayu raksasa itu.
Beberapa detik sebelum azan, sumbu disulut.
“Dum!”
Getaran terasa sampai ke dada.
Air sungai beriak.
Burung-burung terbang rendah.
Anak-anak yang sudah memegang gelas dan kurma tersenyum lebar.
Itulah momen yang selalu dinanti.
Selama lebih dari 50 tahun, Laduman hampir tak pernah absen.
Muhriadi mencatat hanya sekali tradisi ini terhenti, saat pandemi Covid-19 melanda.
Warga sempat mencoba menggunakan sirine, namun suaranya tak menjangkau jauh.
Senja terasa sepi.
Akhirnya, melalui musyawarah desa, Laduman kembali dibunyikan di tahun-tahun berikutnya.
Perjalanan pun tak selalu mulus.
Pada 2015, salah satu meriam kayu pecah akibat daya ledak yang terlalu kuat.
Kayu yang retak tak bisa lagi dipakai.
Saat itu warga terpaksa hanya membunyikan satu Laduman karena tak cukup waktu membuat yang baru.
Tahun ini, kabar baik datang.
Tiga Laduman akan dibunyikan.
Dua baru dibuat, satu lagi peninggalan tahun lalu masih layak pakai.
“Tahun ini tiga Laduman, kalau biasanya dua ini tiga. Karena ternyata pas dicoba, Laduman dari tahun lalu masih bisa dipakai,” kata Muhriadi dengan senyum bangga.
Di balik semangat itu, ada kegelisahan yang tak banyak terdengar.
Mencari kayu Nangka Air kini semakin sulit.
Dulu, panitia bisa menemukannya di tepian sungai sekitar desa.
Kini mereka harus menyusuri Mahakam hingga Muara Pahu, Kutai Barat.
Pernah suatu tahun, pencarian memakan waktu satu bulan penuh.
Tahun ini kayu didapat dari Muara Kedang, ditawarkan warga seharga Rp2–2,5 juta untuk dua batang.
Jika bahan baku semakin langka, masa depan Laduman pun terancam.
Di era telepon pintar dan notifikasi digital, Laduman sebenarnya tak lagi dibutuhkan sebagai penanda waktu. Azan bisa terdengar dari aplikasi. Jam digital ada di genggaman.
Namun bagi warga Jantur, Laduman bukan sekadar alat.
Ia adalah ingatan kolektif.
Ia adalah suara masa kecil, gema kebersamaan, dan simbol gotong royong.
Dentuman itu mengikat generasi lama dan baru dalam satu pengalaman yang sama: menunggu senja Ramadan dengan degup jantung berdebar.
Selama Sungai Mahakam masih mengalir dan warga masih bersedia memahat kayu bersama, Laduman Jantur akan terus menggema.
Bukan hanya sebagai penanda berbuka, tetapi sebagai tanda bahwa tradisi yang lahir dari keterbatasan bisa bertahan lebih dari setengah abad, karena dirawat dengan cinta dan kebersamaan. (UK)





