China Tutup Langit 40 Hari, Sinyal Operasi Militer Besar di Indo-Pasifik

Oleh redaksi

pada Jumat, 10 April 2026

Bendera China (Istimewa)

URBANKALTIM.COM – China memicu tanda tanya besar di kawasan Indo-Pasifik setelah menetapkan zona larangan terbang selama 40 hari berturut-turut di lepas pantainya, langkah yang dinilai tidak lazim dan memunculkan dugaan adanya operasi militer berskala besar.

Pemerintah Beijing menetapkan pembatasan itu melalui Notice to Airmen atau Notam sejak 27 Maret hingga 6 Mei 2026. Hingga kini, otoritas China belum memberikan penjelasan resmi terkait alasan penutupan ruang udara tersebut, Rabu (7/4/2026).

Zona larangan terbang ini mencakup area luas di utara dan selatan Shanghai. Wilayahnya membentang dari Laut Kuning yang berbatasan dengan Korea Selatan hingga Laut China Timur yang menghadap Jepang.

Durasi 40 hari dianggap anomali karena latihan militer China umumnya hanya berlangsung beberapa hari. Status pembatasan juga dinilai tidak biasa karena berlaku dari permukaan hingga ketinggian tak terbatas.

Baca juga  Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, Jalur Minyak Dunia Terancam

Direktur Proyek SeaLight Universitas Stanford, Ray Powell, menilai kombinasi durasi panjang dan cakupan penuh ruang udara menunjukkan pola berbeda dari latihan rutin biasa.

“Apa yang membuat ini sangat menonjol adalah kombinasi status SFC-UNL dengan durasi luar biasa 40 hari dan tanpa adanya pengumuman latihan,” ujar Powell.

Menurut Powell, pola tersebut lebih mencerminkan kesiapan operasional berkelanjutan ketimbang latihan militer terpisah. Jika benar terkait operasi militer, maka ini menandai perubahan besar strategi Beijing dalam menggunakan kontrol ruang udara.

Baca juga  Strategi Energi China Terbukti Tangguh Hadapi Krisis Global Akibat Perang Iran

Berdasarkan data Administrasi Penerbangan Federal AS, area yang ditutup China lebih luas daripada pulau utama Taiwan. Besarnya cakupan ini memicu dugaan adanya simulasi skenario konflik di kawasan.

Direktur Institut Studi Maritim China di US Naval War College, Christopher Sharman, menyebut zona tersebut sangat mungkin dipakai untuk latihan manuver tempur udara skala besar.

Situasi ini muncul saat ketegangan geopolitik di Asia Timur meningkat. Jepang baru saja menempatkan rudal jarak jauh yang mampu menjangkau daratan China, sementara delegasi Kongres AS sedang berada di Taiwan.

Pejabat keamanan senior Taiwan bahkan menilai Beijing memanfaatkan fokus AS yang sedang terpecah ke Timur Tengah untuk memperbesar tekanan militernya di Indo-Pasifik.

Baca juga  China Bantah Laporan Intelijen AS soal Dugaan Kirim Senjata ke Iran

Peneliti PLATracker, Ben Lewis, mencatat China setidaknya empat kali menerbitkan Notam serupa dalam 18 bulan terakhir. Namun sebelumnya durasinya hanya sekitar tiga hari.

Lewis menilai durasi panjang kali ini bisa memberi fleksibilitas lebih besar bagi militer China untuk latihan musim semi. Meski demikian, ia belum melihat tanda eskalasi langsung dalam waktu dekat.

Hal itu karena Beijing masih memiliki agenda diplomatik penting, termasuk rencana kunjungan tokoh oposisi Taiwan Cheng Li-wun dan pertemuan Xi Jinping dengan Donald Trump pada pertengahan Mei.

“Untuk saat ini saya tidak mengantisipasi adanya latihan besar atau lonjakan ketegangan,” kata Lewis. (UK)

Bagikan: