URBANKALTIM.COM – Kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi mulai menunjukkan efek berantai ke berbagai sektor. Tekanan tidak hanya terasa di tingkat konsumen, tetapi juga menjalar ke biaya logistik hingga harga kebutuhan pokok.
Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran, Badiul Hadi menilai lonjakan harga energi berpotensi memicu inflasi berbasis biaya. Dampaknya bisa meluas dalam beberapa kuartal ke depan.
Kenaikan BBM dengan RON tinggi yang mencapai 30 hingga 40 persen serta LPG 12 kg yang naik hingga puluhan ribu rupiah menjadi pemicu utama. Kondisi ini dinilai mendorong kenaikan biaya produksi dan distribusi secara luas.
Dengan struktur biaya logistik Indonesia yang masih tinggi, tekanan tersebut dinilai cepat merambat ke berbagai sektor. Akibatnya, harga barang dan kebutuhan pokok berpotensi ikut terdorong naik.
“Secara empiris, kenaikan harga energi 10 sampai 20 persen dapat menambah inflasi sekitar 0,2 hingga 0,5 persen poin dalam 1 sampai 2 kuartal,” ujar Badiul kepada Kontan, Minggu (19/4/2026).
Dampak lanjutan dari kenaikan ini paling terasa pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Sekitar 40 persen rumah tangga terbawah diperkirakan mengalami penurunan daya beli secara riil.
Tekanan harga membuat pola belanja masyarakat bergeser. Konsumsi non-esensial mulai ditekan, sementara kebutuhan pokok menjadi prioritas utama.
Kondisi ini berimbas pada perlambatan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi. Kontribusinya yang mencapai lebih dari separuh produk domestik bruto membuat perubahan kecil pun berdampak besar.
“Artinya, kualitas pertumbuhan ekonomi menurun,” kata Badiul.
Perlambatan konsumsi diperkirakan menahan laju pertumbuhan ekonomi. Angka pertumbuhan berpotensi berada di kisaran bawah target dalam beberapa waktu ke depan.
Selain itu, pelaku usaha juga menghadapi tekanan dari kenaikan biaya operasional. Strategi efisiensi dan penyesuaian harga dinilai menjadi langkah yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas usaha.
Tanpa langkah mitigasi yang tepat, tekanan biaya berisiko berkembang menjadi pelemahan ekonomi yang lebih luas. Kondisi ini bisa berlangsung dalam jangka waktu lebih panjang jika tidak diantisipasi.
“Tanpa kombinasi langkah tersebut, tekanan biaya berisiko berubah menjadi pelemahan ekonomi yang lebih dalam dan berkepanjangan,” ujar Baidul. (UK)





