URBANKALTIM.COM – Nilai tukar rupiah tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah sempat menyentuh level Rp 17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Tekanan ini terjadi di tengah gejolak global yang mendorong pelemahan hampir seluruh mata uang kawasan.
Hingga pukul 09.35 WIB, rupiah berada di posisi Rp 17.310 per dolar AS. Angka ini melemah sekitar 0,74 persen dibanding penutupan sebelumnya di level Rp 17.181 per dolar AS.
Di saat yang sama, mayoritas mata uang Asia juga mengalami tekanan. Namun pelemahan rupiah tercatat paling dalam, bahkan melampaui peso Filipina yang turun 0,57 persen.
Sementara itu, dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang di kawasan yang menguat tipis. Mata uang tersebut naik sekitar 0,02 persen pada periode yang sama.
Bank Indonesia menilai pergerakan rupiah masih berada dalam tren yang sejalan dengan mata uang regional. Tekanan disebut berasal dari meningkatnya ketidakpastian global.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menjelaskan pelemahan rupiah tidak terjadi sendiri. Ia menyebut kondisi ini juga dialami negara lain di kawasan.
“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan,” ujar Destry, Kamis (23/4/2026).
Ia menambahkan, secara kumulatif pelemahan rupiah sejak awal tahun mencapai 3,54 persen. Angka ini dinilai masih dalam rentang yang wajar dibanding mata uang lain.
Untuk menjaga stabilitas, BI meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan. Langkah ini dilakukan baik di pasar domestik maupun luar negeri.
Intervensi dilakukan melalui pasar NDF offshore serta transaksi spot dan DNDF di dalam negeri. Selain itu, BI juga memperkuat kebijakan suku bunga agar tetap menarik bagi investor.
Upaya lain dilakukan melalui pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Bank sentral juga menjaga kecukupan cadangan devisa yang mencapai sekitar 148,2 miliar dolar AS per akhir Maret 2026.
Langkah tersebut diambil di tengah tekanan eksternal, termasuk dampak konflik global yang memicu arus modal keluar. Kondisi ini turut memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.
“Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Destry. (UK)





