Rupiah Masih Terjebak di Level 17.000, Ini Penyebabnya

Oleh redaksi

pada Senin, 13 April 2026

Ilustrasi mata uang Rupiah Indonesia (Istimewa)

URBANKALTIM.COM – Rupiah diperkirakan masih belum mampu keluar dari tekanan dan bertahan di kisaran Rp 17.000 per dollar AS dalam sepekan ke depan. Pelemahan ini dipicu ketegangan global setelah gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.

Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih cukup besar. Selain faktor geopolitik, ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat turut memperberat pergerakan mata uang domestik.

Menurutnya, kombinasi sentimen global tersebut membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas. Bahkan, dalam waktu dekat pergerakan mata uang Garuda diperkirakan masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah.

Baca juga  Iran Klaim AS Bombardir Pesawat dan Personelnya Sendiri dalam Operasi Gagal

“Rupiah kemungkinan masih akan melemah. Dan kemungkinan masih akan bertahan di atas level Rp 17.000,” ujar Ibrahim, Minggu (12/4/2026).

Ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengganggu jalur distribusi minyak mentah global yang selama ini menjadi salah satu jalur vital perdagangan energi dunia.

Gangguan pasokan tersebut mendorong harga minyak naik dan berdampak pada meningkatnya inflasi global. Dalam situasi ini, bank sentral di berbagai negara cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama guna menekan laju inflasi.

Kondisi tersebut membuat arus modal global cenderung berpindah ke aset yang dianggap lebih aman. Dollar AS menjadi salah satu pilihan utama investor sehingga permintaannya meningkat tajam.

Baca juga  Diplomasi AS-Iran Buntu, Wakil Presiden AS, JD Vance Akui Tak Ada Titik Temu

Penguatan dollar AS inilah yang kemudian menekan nilai tukar rupiah. Alhasil, mata uang domestik sulit untuk kembali menguat dalam waktu singkat.

Ibrahim menjelaskan pergerakan harga komoditas global juga akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik. Harga minyak mentah diperkirakan bergerak dalam rentang cukup lebar selama sepekan ke depan.

Jika ketegangan mereda dan jalur distribusi kembali normal, harga minyak berpotensi turun. Namun sebaliknya, jika konflik memanas, harga energi diperkirakan akan kembali melonjak.

Baca juga  Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal, Iran Murka Usai Israel Gempur Lebanon

Untuk perdagangan sepekan ke depan, harga minyak diproyeksikan berada di kisaran 78,7 hingga 107,9 dollar AS per barel.

Selain minyak, harga emas juga diprediksi mengalami pergerakan yang fluktuatif. Logam mulia ini biasanya menjadi aset lindung nilai saat ketidakpastian global meningkat.

Ibrahim menegaskan arah suku bunga global dan eskalasi konflik akan menjadi penentu utama pergerakan emas. Jika tekanan inflasi mereda dan suku bunga mulai turun, harga emas berpeluang menguat.

“Jika konflik meningkat menjadi perang terbuka, maka harga emas juga berpotensi naik tajam,” ujar Ibrahim. (UK)

Bagikan: