Tiongkok dan India Masuk Fase Krisis Energi Akibat Selat Hormuz

Oleh redaksi

pada Kamis, 23 April 2026

Selat Hormuz (Istimewa)

URBANKALTIM.COM – Tiongkok dan India mulai memasuki fase krisis energi setelah terhentinya arus minyak di Selat Hormuz. Blokade di jalur vital ini memicu tekanan besar terhadap pasokan energi di kawasan Asia.

Kondisi ini dipicu konflik berkepanjangan di Teluk Persia yang membuat lalu lintas tanker minyak terganggu. Negara-negara yang bergantung pada impor energi kini menghadapi situasi yang semakin tidak menentu.

Laporan terbaru menunjukkan cadangan minyak terapung mengalami penurunan tajam. Jika pada Februari 2026 masih berada di kisaran 20 juta barel, angka tersebut kini merosot drastis.

Per April 2026, cadangan itu bahkan turun hingga di bawah 5 juta barel. Data dari Vortexa menunjukkan angka yang lebih rendah, mendekati 3 juta barel.

Baca juga  Kronologi KA Argo Bromo Hantam KRL di Bekasi Diawali Tabrakan Taksi

Penurunan ini menandakan semakin terbatasnya opsi pasokan alternatif. Ketergantungan terhadap jalur Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang memperparah kondisi.

Di antara negara Asia, India menjadi pihak yang paling terdampak. Kelangkaan Liquefied Petroleum Gas mulai dirasakan secara luas di berbagai wilayah.

Krisis ini juga berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar. Harga solar diperkirakan akan naik untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir.

Upaya India untuk mengamankan jalur pasokan melalui jalur diplomasi juga menemui jalan buntu. Negosiasi dengan Iran dilaporkan terhenti setelah insiden serangan terhadap kapal pengangkut.

Baca juga  Rupiah Menguat ke Rp17.168, Sinyal Kuat atau Efek Sesaat

Situasi semakin sulit setelah berakhirnya izin sementara dari Amerika Serikat terkait minyak Iran. Hal ini membuat pasokan dari Teheran tidak lagi bisa diakses secara leluasa.

Sementara itu, posisi Tiongkok dinilai sedikit lebih stabil. Negara ini memiliki cadangan energi yang jauh lebih besar dibandingkan India.

Cadangan energi Tiongkok disebut mencapai lebih dari 1 miliar barel. Namun, tekanan tetap terasa akibat menyusutnya pasokan global.

Penurunan pasokan minyak dunia sekitar 10 persen dalam sebulan terakhir turut mendorong kenaikan harga. Kondisi ini berdampak pada biaya energi domestik di berbagai negara.

Baca juga  Indonesia dan AS Perkuat Kerja Sama, Modernisasi Militer Jadi Pilar Utama

Ketidakpastian jalur energi global mendorong sejumlah negara mengambil langkah antisipasi. Salah satunya dengan membatasi ekspor energi untuk menjaga kebutuhan dalam negeri.

Tiongkok termasuk negara yang mulai menerapkan kebijakan tersebut. Langkah ini diambil untuk meredam tekanan permintaan domestik di tengah krisis.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak blokade Selat Hormuz tidak hanya bersifat regional. Krisis ini mulai merembet menjadi ancaman global bagi stabilitas energi. (UK)

Bagikan: