TENGGARONG – Peran Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) Kutai Kartanegara (Kukar) dalam membina pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kian nyata. Melalui berbagai program penguatan kapasitas, pemerintah daerah berupaya menghadirkan pendampingan bukan hanya soal produksi, tetapi juga manajemen usaha.
Kabid Pemberdayaan UKM, Diskop UKM Kukar, Fathul Alamin, menyebut salah satu UMKM binaan yang patut dijadikan contoh adalah Dapur Pelangi. “Salah satu pelaku UMKM binaan kami yang cukup sukses dan bisa menjadi percontohan adalah Dapur Pelangi, mereka sudah sangat bagus dalam memproduksi serta melakukan manajemen keuangan untuk pengembangan usaha mereka,” katanya.
Dapur Pelangi yang berlokasi di Jalan Arwana, Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong, dikelola oleh Tony Anggara. Usaha kuliner ini sudah bertahan selama tiga tahun dengan berbagai varian produk, mulai dari roti manis, roti asin, donat, brownies, cake, hingga puding (8/8/2025).
“Diberi nama dapur pelangi karena filosofisnya itu berdasarkan dari banyaknya jenis makanan yang kami olah kemudian banyaknya orang yang terlibat jadikan berwarna,” ungkap Tony.
Saat ini Dapur Pelangi melibatkan 11 orang pekerja tetap serta bermitra dengan kurir, termasuk layanan daring seperti Gojek, GrabFood, dan pemesanan via WhatsApp. Keberhasilan Tony dalam mengelola usaha tidak lepas dari keterlibatannya dalam komunitas wirausaha Tangan di Atas, yang menjadi pintu masuk menjalin komunikasi dengan pemerintah.
“Misalnya kami ada usul butuh ini kira-kira pemerintah bisa nggak memfasilitasi kalau tidak bisa memfasilitasi materinya ya bisa memfasilitasi ruangannya, syukur-syukur bisa memfasilitasi ruangan dan pematerinya. Alhamdulillah kemarin kami pernah usul terkait kelas teknis jadi tidak cuman melulu membuat produknya tapi kita perlu juga belajar manajemennya,” ujarnya.
Dari masukan itu, Diskop UKM pun menghadirkan pelatihan manajemen sederhana bagi UMKM. Tony bahkan dipercaya menjadi narasumber, berbagi pengalaman tentang pengelolaan keuangan usaha hingga strategi negosiasi. Pelatihan tersebut sempat digelar di BPU Kecamatan Tenggarong dan Hotel Grand Fatma.
“Saya yang menginisiasi malah sama Pak Fathul saya yang diminta untuk jadi narasumber. Sempat kami lakukan pertama di BPU Kecamatan Tenggarong kemudian kami juga pernah mengisi kegiatan serupa untuk Desa Sepakat,” terangnya.
Tony menilai program pelatihan yang digagas pemerintah sangat bermanfaat, terutama dalam mengubah pola pikir pelaku usaha agar lebih profesional. Namun, ia berharap kegiatan semacam ini bisa merangkul lebih banyak UMKM.
“Pentingnya pelatihan ini kan untuk peralihan supaya orang-orang berenterpreuner. Harapannya ke pemerintah ya kalau pelatihan itu jelasnya dirangkul kan ada beberapa kawan-kawan yang jenis usahanya tidak punya komunitas jadi kurang dapat arus informasi. Jadi ya mereka merasa pemerintah ini tidak ada andilnya, padahal pemerintah itu perannya banyak,” harapnya. (Adv)





