SANGATTA — Upaya modernisasi pertanian di Kutai Timur (Kutim) tidak hanya difokuskan pada peningkatan produksi dan perluasan lahan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) kini memperkuat fondasi sektor pertanian melalui pembenahan Sumber Daya Manusia (SDM), terutama kelompok tani dan generasi petani muda.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, menegaskan bahwa keberhasilan program pertanian tidak semata ditentukan oleh jumlah lahan atau alat pertanian yang disalurkan, melainkan oleh kualitas tata kelola kelompok tani sebagai pelaksana utama di lapangan.
Karena itu, DTPHP mulai menerapkan langkah konkret dengan melakukan revitalisasi kelompok tani serta mendorong lahirnya regenerasi petani muda yang mampu mengelola usaha tani secara lebih modern dan berkelanjutan.
“Banyak kelompok tani yang aktif hanya saat menerima bantuan, namun tidak optimal dalam perencanaan tanam dan manajemen produksi,” ujarnya.
Menurutnya, ketidakefisienan ini berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas dan minimnya keberlanjutan program pertanian di sejumlah kecamatan.
Karena itu, DTPHP menerapkan pendekatan baru yang lebih sistematis dan berbasis data dengan penerapan sistem monitoring berbasis aplikasi untuk mencatat jadwal tanam, penggunaan sarana produksi, perkembangan tanaman per musim, hingga laporan kegiatan setiap kelompok tani.
“Aplikasi ini memastikan aktivitas kelompok berjalan konsisten. Bukan hanya aktif saat ada bantuan,” kata Dessy.
Sistem digital ini sekaligus memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat bagi DTPHP untuk melakukn intervensi dan menyakurkan bantuan agar tepat sasaran.
Selain memperbaiki manajemen kelompok, DTPHP juga menempatkan regenerasi petani muda sebagai prioritas lima tahun ke depan.
Mengingat Kutim juga menghadapi realitas yang sama dengan banyak daerah di Indonesia, yakni jumlah petani lanjut usia terus meningkat, sementara minat generasi muda masih rendah.
Untuk itu, Dessy menilai sektor pertanian harus ditampilkan sebagai pekerjaan yang aman, modern, dan menjanjikan agar menarik bagi generasi muda.
“Generasi muda harus melihat pertanian sebagai sektor yang aman dan menjanjikan. Apalagi risiko gagal panen kini sudah bisa ditekan dengan asuransi,” jelasnya.
Menurut Dessy, revitalisasi kelompok tani dan regenerasi petani muda adalah strategi jangka panjang yang akan menjadi fondasi utama kesuksesan program swasembada pangan Kutim.
Pendekatan ini juga sejalan dengan arah pembangunan pertanian nasional yang menekankan modernisasi, efisiensi, dan keberlanjutan.
“Kalau petaninya aktif, punya data yang jelas, dan punya semangat, maka semua progra, mulai dari OPLAH, cetak sawah, sampai asuransi akan memberi hasil nyata,” tegasnya. (Adv)





