Bupati Kutim Ingatkan Keterbatasan Pendidikan di Masa Lalu sebagai Motivasi Perubahan

Oleh redaksi

pada Senin, 24 November 2025

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah saat menghadiri peluncuran program Sitisek (Urbankaltm)

SANGATTA – Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk kembali melihat perjalanan panjang pembangunan pendidikan daerah sebagai cermin sekaligus motivasi mempercepat perubahan.

Ia menegaskan bahwa kondisi pendidikan Kutai Timur yang jauh lebih baik saat ini dibangun dari keterbatasan berat pada masa lalu—sebuah kenyataan yang menurutnya tidak boleh dilupakan agar semangat pembenahan terus menyala.

Pesan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada agenda Rencana Aksi Daerah (RAD) Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (Sitisek), beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, Bupati mengingatkan bahwa pada awal 1990-an Kutai Timur menghadapi kesenjangan besar dalam fasilitas pendidikan.

Jumlah sekolah sangat terbatas, tenaga pendidik minim, dan akses pendidikan menengah hampir tidak tersedia bagi sebagian besar anak.

Baca juga  Dari Sembako hingga Bayar Tagihan, Koperasi Merah Putih Kelurahan Melayu Siap Layani Warga

“Pada 1991 sampai 1992 itu SMA hanya ada dua dan salah satunya hibah dari perusahaan, makanya kita tidak boleh lupa dari mana kita memulai,” terangnya.

Ardiansyah menilai pentingnya memahami sejarah ini agar seluruh pihak menyadari bahwa kemajuan pendidikan saat ini merupakan hasil perjalanan panjang, bukan perubahan yang terjadi dalam sekejap.

Dengan kesadaran itu, ia berharap komitmen peningkatan kualitas pendidikan dapat terus dijaga.

Ia menjelaskan bahwa transformasi pendidikan Kutai Timur berlangsung bertahap, mulai dari pembangunan sekolah dasar hingga perluasan sekolah menengah yang kini telah tersebar lebih merata di berbagai kecamatan.

Menurutnya, pemekaran wilayah hingga menjadi 18 kecamatan juga memberi pengaruh besar terhadap percepatan pemerataan fasilitas pendidikan.

Baca juga  Jadi Magnet Utama Wisata di Pesisir, Pantai Tanah Merah Sumbang PAD Tertinggi Pariwisata Kukar

Dengan pembagian wilayah administrasi yang lebih kecil, identifikasi kebutuhan lokal menjadi lebih mudah dan program pembangunan dapat difokuskan secara tepat.

Ardiansyah menambahkan bahwa komitmen anggaran juga menjadi fondasi penting dalam perjalanan pendidikan daerah.

Sejak 2008, Pemkab Kutim telah mengalokasikan minimal 20 persen APBD untuk sektor pendidikan, bahkan sebelum ketentuan tersebut diwajibkan pemerintah pusat.

Konsistensi ini, katanya, telah memberikan ruang bagi pemerintah untuk membangun lebih banyak fasilitas sekolah, menyebarkan pendidik, dan memperkuat layanan pendidikan dasar hingga menengah.

Namun, Ardiansyah mengingatkan bahwa tantangan pendidikan saat ini berbeda dengan masa lalu.

Jika pada awal pemekaran persoalan utamanya adalah ketersediaan sekolah, kini fokusnya adalah memastikan bahwa setiap anak benar-benar mendapatkan layanan pendidikan yang layak.

Baca juga  Dispar Kukar Gaet Praktisi Animasi Bandung, Asah Kemampuan Kreator Muda Lokal

Ia menegaskan bahwa program Sitisek hadir untuk menjembatani perubahan tersebut: dari pemerataan fasilitas menuju pemerataan layanan pendidikan berbasis data yang akurat.

Pendataan anak tidak sekolah secara menyeluruh, menurutnya, menjadi kunci untuk memastikan tidak ada satu pun anak di Kutai Timur yang tertinggal dari sistem pendidikan.

Ardiansyah menegaskan kembali bahwa keberhasilan pendidikan Kutai Timur ke depan bergantung pada kemampuan daerah menjaga kesinambungan transformasi yang telah dibangun hampir dua dekade terakhir.

“Perjalanan kita sudah panjang dan pijakannya sudah kuat. Tantangannya sekarang adalah memastikan layanan pendidikan benar-benar menjangkau setiap anak di Kutai Timur,” pungkasnya. (Adv)

Bagikan: