Songkok Khas Kutai Karya Badaruddin Tembus Pasar Luar Pulau

Oleh redaksi

pada Senin, 4 Agustus 2025

produk songkok khas Kutai (Istimewa)

TENGGARONG – Warisan budaya khas Kutai kembali mendapat perhatian lewat karya tangan terampil Badaruddin, seorang pengrajin songkok asal Tenggarong. Dengan ketekunannya, ia berhasil menjadikan songkok khas Kutai sebagai produk bernilai ekonomi tinggi sekaligus identitas budaya yang mampu menembus pasar luar Kalimantan.

Badaruddin mengaku keterampilannya membuat songkok khas Kutai ia pelajari secara mandiri. Berkat kesabaran dan latihan, ia kini bisa memproduksi kopiah dalam jumlah banyak. Hasil olahan tangannya pun langsung menarik perhatian para pedagang.

“Jadi sida tu beli ke saya, habistu sida jual lagi. Jadi seller lah bahasanya wayahni,” ujarnya, Senin (4/8/2025).

Dengan pola kerja sama ini, Badaruddin tidak hanya menjual langsung, tetapi juga memiliki jejaring reseller yang membantu memperluas jangkauan pasarnya.
Tiga Jenis Kain, Tiga Kualitas Songkok
Dalam memproduksi songkok khas Kutai, Badaruddin menggunakan tiga jenis kain beludru:

  • Beludru Contessa (kualitas standar, harga lebih terjangkau)
  • Beludru Martin (kualitas menengah, lebih tebal dan halus)
  • Beludru impor Korea (kualitas premium, tekstur elegan dan tahan lama)
Baca juga  Diskop UKM Kukar Pastikan Pembinaan Berkelanjutan untuk Wirausaha Disabilitas

“Kalau bahan beludru martin sama impor Korea itu belinya di Jawa karena lebih murah. Sedangkan contessa bisa dibeli di sini saja per meter,” jelasnya.

Harga songkok yang diproduksinya bervariasi tergantung bahan dan jumlah pembelian.

  • Beli grosir (sekodi/20 pcs): Contessa Rp25 ribu, Martin Rp30 ribu, Korea Rp55 ribu per buah.
  • Beli eceran: Contessa Rp50 ribu, Martin Rp60 ribu, Korea Rp85 ribu per buah.

Model bisnis ini membuat songkok Badaruddin diminati oleh pedagang besar maupun pembeli perorangan.
Promosi via Media Sosial, Tembus Pasar Nasional

Baca juga  Tradisi dan Inovasi Berpadu, Tim Sri Muntai Juara Lomba Begerakan Sahur di IRMA Ramadhan Fair 2025

Tak hanya mengandalkan penjualan lokal, Badaruddin juga memanfaatkan media sosial seperti Instagram, WhatsApp, Facebook, dan marketplace Shopee. Strategi ini berhasil mendatangkan pembeli dari luar Kalimantan, mulai dari Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi.

“Jadi mereka yang beli ke saya songkok Kutai ni bilang suka dengan modelnya. Malah ada orang Jawa yang bawa sampai ke Mekkah, sampai orang Arab sana makai,” ungkapnya dengan bangga.

UMKM Songkok Sebagai Identitas Budaya
Songkok khas Kutai tidak hanya berfungsi sebagai penutup kepala, tetapi juga simbol budaya masyarakat Kutai. Keberhasilan Badaruddin mengemas produk tradisional ini menjadi komoditas bernilai jual membuktikan bahwa UMKM berbasis kearifan lokal memiliki daya saing tinggi.

Bagi masyarakat yang ingin memesan songkok khas Kutai, dapat langsung menghubungi WhatsApp 081258076788 atau Instagram @songkokkhaskutai.

Baca juga  Keberadaan Pabrik Rumput Jadi Peluang, Camat Muara Badak Ajak Warga Ambil Peran dalam Hilirisasi Ekonomi

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kukar, Thaufiq Zulfian Noor, memberikan apresiasi atas keberhasilan Badaruddin dalam mengembangkan usaha berbasis tradisi lokal. Menurutnya, usaha seperti ini tidak hanya memberi manfaat ekonomi, tetapi juga menjaga identitas budaya Kutai.

“Songkok khas Kutai adalah warisan budaya yang kini berhasil diangkat menjadi produk UMKM bernilai ekonomi. Pemerintah daerah, khususnya Diskop-UKM Kukar, tentu siap memberikan pendampingan, baik dalam pengemasan modern, promosi digital, maupun akses permodalan,” tegasnya.

Thaufiq menambahkan, Diskop-UKM akan membantu mendorong produk songkok khas Kutai masuk ke katalog lokal dan pameran nasional. “Targetnya, songkok khas Kutai bisa menjadi ikon oleh-oleh resmi Kukar yang dikenal luas di Indonesia, bahkan hingga ke mancanegara,” pungkasnya. (Adv)

Bagikan: