TENGGARONG – Di tangan kreatif seorang perempuan asal Kutai Kartanegara (Kukar), tanaman endemik Kalimantan yang selama ini dikenal sebagai herbal tradisional berhasil naik kelas menjadi produk bernilai ekonomi. Resti Novitaria, pelaku Usaha Mukro Kecil dan Menegah (UMKM) binaan Dinas Koperasi (Diskop-UKM) Kukar, mengolah bawang dayak (Eleutherine palmifolia) menjadi minuman kesehatan dalam kemasan modern dengan merek Teh Tea Wai.
Bawang dayak sejak lama dipercaya masyarakat Kalimantan sebagai tanaman obat. Mulai dari akar, batang, hingga daunnya memiliki kandungan senyawa yang berbeda dengan manfaat masing-masing. Tradisi pengobatan inilah yang menginspirasi Resti untuk menghadirkan produk teh herbal yang bisa dikonsumsi praktis sehari-hari.
“Alhamdulillah, kami bisa mengembangkan bawang dayak menjadi produk bernilai ekonomi. Tidak hanya menjaga warisan tradisi, tapi juga memberi manfaat kesehatan yang lebih luas,” ujar Resti.
Produk Teh Tea Wai kini sudah memiliki varian rasa, termasuk green tea, dan rencananya akan dikembangkan menjadi lima varian baru untuk memperkaya pilihan konsumen.
Dengan harga Rp25.000 per bungkus, Teh Tea Wai cukup terjangkau bagi konsumen, baik lokal maupun luar daerah. Menariknya, produk ini tidak hanya dipasarkan di Kukar atau Kalimantan Timur, melainkan sudah mencapai Pulau Jawa melalui jaringan reseller.
Resti menyebutkan saat ini sudah ada beberapa reseller tetap, namun peluang masih terbuka bagi siapa saja yang berminat bekerja sama. “Kami terbuka untuk reseller baru agar pemasaran bisa semakin luas,” jelasnya.
Sebagai minuman kesehatan, Teh Tea Wai hadir dengan klaim manfaat yang telah lama dikenal dalam tradisi herbal Kalimantan. Kandungan bawang dayak diyakini mampu membantu meringankan berbagai penyakit, mulai dari kanker, hipertensi, tumor, maag, hingga jantung dan hepatitis.
“Semua bagian tanaman bawang dayak bisa digunakan. Hanya saja kandungan setiap bagian berbeda-beda. Inilah yang membuatnya unik dan kaya manfaat,” tutur Resti.
Dalam mengembangkan produk, Resti tidak berjalan sendiri. Ia bersama suaminya membina sekitar 17 kepala keluarga petani bawang dayak yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Tenggarong, Tenggarong Seberang, dan Sebulu. Dengan pola ini, kebutuhan bahan baku selalu tercukupi meski permintaan terus meningkat.
“Kami bersyukur tidak pernah kekurangan pasokan. Justru semakin banyak petani yang ingin ikut serta karena melihat potensi ekonomi dari bawang dayak,” katanya. (Adv)





