TENGGARONG – Deretan toko sovenir di kawasan Museum Mulawarman menjadi saksi perjalanan para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) khas Kutai. Namun, di balik warna-warni produk lokal yang terpajang, para perajin masih menghadapi tantangan besar, yaitu minimnya promosi dari pemerintah daerah.
Ninawati, pemilik Toko Sovenir Nina, menuturkan dirinya telah berjualan sejak 1997. Selama puluhan tahun, pendapatannya naik turun, bergantung pada jumlah wisatawan. “Saya berjualan di Museum Mulawarman sejak 1997 silam. Untuk pendapatan yang diperoleh pasang surut, karena hanya mengharapkan dari kunjungan wisata,” sebutnya, Sabtu (12/7/2025).
Menurutnya, produk yang dipasarkan sangat beragam, mulai dari tas, dompet, cobek, baju Kaltim, kopiah, gelang, cincin, hingga sarung. Semua memiliki identitas khas Kutai maupun Dayak. “Produk kita ini tak kalah saing dan memiliki kualitas baik, untuk dipasarkan lebih luas. Untuk itu, kami berharap peran pemerintah bisa hadir membantu dalam mempromosikan atau memperkenalkan produk lokal secara lebih luas,” kata Ninawati.
Ia menambahkan, pemerintah daerah sebenarnya bisa menjadikan produk UMKM lokal sebagai cenderamata resmi bagi tamu dari luar daerah. Bahkan, pemerintah bisa mengarahkan tamu berkunjung langsung ke toko sovenir di Museum Mulawarman.
Meski pengunjung tetap datang, jumlahnya tak menentu. Lonjakan hanya terjadi saat libur sekolah atau musim wisata. “Rata-rata yang membeli produk sovenir ini dari pengunjung luar daerah, mulai Riau, Jakarta, maupun sejumlah kabupaten/kota di Kaltim,” ujarnya.
Harga produk sovenir bervariasi, antara Rp50 ribu hingga Rp350 ribu, bergantung tingkat kesulitan kerajinan. Namun, omset bulanan yang kini hanya sekitar Rp6–8 juta jauh menurun dibanding sebelum 2020. “Omset alami penurunan daripada pada tahun 2020 ke bawah, yang pernah mencapai puluhan juta rupiah,” ucapnya.
Menanggapi hal ini, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi dan UKM (Dikop UKM) Kukar, Thaufiq Zulfian Noor menyebut pemerintah sebenarnya terus melibatkan pelaku UMKM dalam berbagai event daerah. “Setiap event daerah, kita terus memberikan informasi dan memberika ruang kepada pelaku usaha agar mereka turut berpartisipasi dalam event itu,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong pelaku usaha membuat katalog produk. Langkah ini diharapkan bisa membuka peluang agar kerajinan tangan khas Kutai lebih dikenal dan berdaya saing. “Kami terus mendukung seluruh pelaku usaha lokal, dalam meningkatkan perekonomian masyarakat,” ungkapnya. (Adv)





