TENGGARONG – Gula merah tak lagi hanya dijual dalam bentuk utuh. Di tangan kreatif Salasiah, pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) asal Desa Jongkang, Kecamatan Loa Kulu, bahan tradisional ini disulap menjadi aneka kue kering bercita rasa khas.
Dari dapurnya lahir camilan manis-gurih seperti kue keminting, sagon bakar, hingga kue kacang. “Kue kering berbahan dasar gula merah ini memiliki ciri khas tersendiri, yakni rasanya yang manis dan gurih,” katanya pada Rabu (3/9/2025).
Produk ini selalu diminati konsumen, terutama saat ia mengikuti event kuliner. “Konsumen yang membeli kue ini minimal 2 toples. Harga kue bermacam-macam dari Rp15 ribu–30 ribu per toples, tergantung dari isi beratnya,” sebutnya.
Selain dalam kemasan toples, kue kering juga dijual dengan sistem perkilo, dengan harga mencapai Rp125 ribu. Dalam sebulan, Salasiah mampu memproduksi sekitar 20 kilogram kue kering, dengan omset rata-rata Rp2,5 juta.
Proses pembuatan membutuhkan waktu sekitar dua jam, mulai dari menyiapkan gula merah cair, mencampurkan dengan tepung kanji, mencetak adonan, hingga memanggang dalam oven selama 30 menit.
“Pertama kita harus mempersiapkan bahan-bahan baik gula merah yang dilarutkan, tepung kanji yang disiram dengan air gula itu dan dicetak, terakhir dioven 30 menit,” jelasnya.
Dalam produksinya, ia tidak bekerja sendirian. Salasiah dibantu rekan-rekannya mulai dari persiapan bahan hingga proses memasak. Semangat gotong royong ini sekaligus membuka peluang pemberdayaan masyarakat sekitar.
“Untuk omset yang diperoleh dalam satu bulan sekitar Rp2,5 juta,” ucapnya. Meski belum besar, usaha ini cukup menambah pendapatan keluarga sekaligus memberi manfaat bagi warga sekitar.
Salasiah berharap usahanya semakin dikenal luas. “Usaha kue kering ini semakin banyak diminati oleh konsumen. Dan bisa memberdayakan masyarakat setempat, dalam menambah nilai pendapatan masyarakat,” tutupnya. (Adv)





