SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menempatkan penguatan irigasi skala kecil sebagai agenda strategis untuk menjaga keberlanjutan musim tanam 2026.
Melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP), ketersediaan air dipastikan menjadi fokus utama mengingat sebagian besar areal pertanian Kutim masih mengandalkan curah hujan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, menegaskan bahwa petani tidak boleh lagi sepenuhnya bergantung pada iklim. Infrastruktur air desa seperti embung, sumur dangkal, dan parit harus menjadi sumber utama penyokong budidaya.
“Kita tidak bisa berharap sepenuhnya pada cuaca. Air harus disiapkan, bukan ditunggu,” ujarnya.
Dessy menjelaskan bahwa banyak lahan pertanian di Kutim mengalami produktivitas tidak stabil karena minimnya infrastruktur air.
Saat kemarau panjang, petani terpaksa menunda tanam, sementara saat hujan ekstrem sebagian lahan justru mengalami genangan.
Untuk memutus ketergantungan tersebut, DTPHP menargetkan pembangunan dan rehabilitasi 50 embung kecil serta sumur dangkal di berbagai kecamatan pada 2026.
Fasilitas ini diharapkan menjaga suplai air bagi wilayah yang kerap kekurangan sumber air, sekaligus menjadi cadangan saat musim kemarau.
Menurut Dessy, irigasi skala kecil dinilai lebih efektif dan cepat dirasakan manfaatnya dibanding pembangunan jaringan irigasi besar.
Dengan biaya lebih rendah dan proses pengerjaan yang singkat, embung dan sumur dangkal dapat langsung digunakan petani dalam satu musim tanam.
“Parit-parit desa yang dangkal harus dinormalisasi. Banyak di antaranya sebenarnya bisa menjadi sumber air cadangan, hanya tidak terawat,” tambahnya.
Sebagai dukungan tambahan, DTPHP juga menyesuaikan bantuan pompa air berdasarkan pemetaan sumber air.
Bantuan hanya akan diberikan setelah analisis lokasi untuk menghindari kasus pompa tidak terpakai karena sumber air tidak memadai.
Pada 2026, penguatan irigasi skala kecil juga akan diintegrasikan dengan program OPLAH dan rehabilitasi sawah terbengkalai.
Kombinasi ini diharapkan menghasilkan lahan yang lebih stabil produktivitasnya, bahkan pada musim-musim kering.
Selain infrastruktur, DTPHP akan memberikan pelatihan manajemen air kepada kelompok tani agar penggunaan air lebih efisien, terutama pada fase kritis pertumbuhan tanaman.
Dessy menegaskan bahwa keberhasilan musim tanam sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola air secara tepat dan berkelanjutan.
Dengan perbaikan sumber air desa, pemerintah optimistis produktivitas pertanian Kutim akan meningkat signifikan dalam dua tahun mendatang. (Adv)





