URBANKALTIM.COM – Rusia mengevakuasi teknisi dari pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran di tengah eskalasi konflik. Langkah ini disebut melibatkan koordinasi dengan militer Israel.
Evakuasi dilakukan setelah serangan menghantam area dekat fasilitas nuklir tersebut. Insiden ini memicu kekhawatiran terhadap keselamatan pekerja dan potensi risiko yang lebih luas.
Laporan media Israel menyebut ada komunikasi antara pejabat Rusia dan militer Israel terkait evakuasi. Sebanyak 198 pekerja dilaporkan telah ditarik dari lokasi.
Informasi ini muncul dari keterangan seorang pejabat diplomatik. Namun detail teknis koordinasi tidak diungkap ke publik.
Perusahaan nuklir Rusia, Rosatom, menyatakan telah memulai evakuasi sejak konflik meningkat pada akhir Februari. Langkah ini dilakukan untuk mengamankan personel di lapangan.
Kepala Rosatom, Alexei Likhachev, menyebut situasi di sekitar fasilitas terus memburuk. Ia menggambarkan kondisi yang berkembang mendekati skenario terburuk.
“perkembangan di sekitar fasilitas Bushehr berjalan sesuai skenario terburuk,” kata Likhachev, Sabtu (4/4/26).
Serangan di dekat fasilitas Bushehr dilaporkan menewaskan satu penjaga. Korban disebut merupakan warga Iran yang bertugas di area tersebut.
Fasilitas ini memiliki peran penting dalam pasokan energi Iran. Rusia diketahui terlibat dalam pembangunan dan operasionalnya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan dampak serius jika serangan terus berlanjut. Ia menyinggung risiko radiasi yang dapat meluas ke negara lain.
“Serangan ini jika terus berlanjut, dapat mengakhiri kehidupan di ibu kota negara Teluk, bukan Teheran,” ujar Araghchi. (UK)





