URBANKALTIM.COM – Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dunia, kini berada dalam tekanan serius setelah lalu lintas kapal anjlok drastis hingga di bawah 10 persen dari kondisi normal.
Situasi ini terjadi setelah Iran meminta seluruh kapal yang melintas untuk mengikuti rute melalui perairan teritorialnya. Kebijakan itu membuat arus kapal di salah satu choke point energi terpenting dunia nyaris lumpuh, Kamis (9/4/2026).
Data pelacakan kapal menunjukkan hanya enam kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Jumlah itu sangat jauh dari rata-rata normal yang mencapai sekitar 140 kapal per hari.
Enam kapal tersebut terdiri atas satu tanker produk minyak dan lima kapal kargo curah. Satu kapal tanker kimia juga dijadwalkan melintas menuju India.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengarahkan kapal-kapal agar melewati jalur tertentu di sekitar Pulau Larak. Langkah itu disebut sebagai upaya menghindari ancaman ranjau laut di jalur utama selat.
Menurut laporan Tasnim, kapal diwajibkan masuk dari sisi utara Pulau Larak dan keluar melalui sisi selatan, dengan koordinasi penuh bersama angkatan laut IRGC.
Gangguan di Selat Hormuz berdampak besar pada distribusi energi global. Saat ini lebih dari 180 kapal tanker tertahan di kawasan Teluk, membawa sekitar 172 juta barel minyak mentah dan produk olahan.
Analis Verisk Maplecroft, Torbjorn Soltvedt, menilai pelaku industri pelayaran masih sangat berhati-hati menghadapi situasi ini. Masa gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran dinilai belum cukup memulihkan kepercayaan.
“Gencatan senjata dua pekan tidak cukup untuk mengurai antrean kapal,” ujar Torbjorn Soltvedt.
Perusahaan pelayaran Jepang Mitsui O.S.K. Lines juga masih menahan keputusan operasi normal. Presiden dan CEO Mitsui O.S.K. Lines, Jotaro Tamura, mengatakan pihaknya masih menghitung risiko keamanan sebelum kembali membuka rute reguler.
Perusahaan keamanan maritim Inggris Ambrey memperingatkan risiko tetap tinggi, terutama bagi kapal yang terkait Amerika Serikat dan Israel. Bahkan, sejumlah kapal yang telah memperoleh izin tetap dipaksa berbalik saat hendak melintas.
Di tengah ketegangan itu, muncul pula laporan bahwa Iran berpotensi mengenakan pungutan hingga US$2 juta bagi kapal yang melintas. Namun laporan itu belum sepenuhnya terkonfirmasi.
Sementara itu, ekspor minyak Iran masih berjalan relatif stabil. Dalam 24 jam terakhir, satu tanker minyak dan satu kapal pengisian bahan bakar berbendera Iran tetap tercatat melintasi selat tersebut.
“Risiko keamanan harus cukup rendah sebelum aktivitas normal dilanjutkan,” kata Jotaro Tamura. (UK)





